Tuesday, November 3, 2020

Cluster Family of COVID-19: "Why Afraid of Death

 KLUSTER KELUARGA COVID-19:
“Tentang Ketakutan Atas Kematian”

Oleh: Emilianus Elip

 

Merebaknya pandemi COVID-19 sejak kira-kira awal tahun 2020 ini mungkin menjadi fenomena yang paling menakutkan, dramatis, tetapi juga menarik untuk dicermati dan diperbincangkan. Menakutkan, oleh karena virus ini begitu cepat menyebar dan membunuh banyak orang. Pernah diberitakan bahwa beberapa pakar telah menghitung secara metematis, virus ini akan membunuh orang secara cepat berlipat-lipat hanya dalam hitungan minggu dan bulan. Informasi mengenai cara penyebarannya pun berubah-ubah, ciri-ciri terpapar juga berganti-ganti, bahkan diinformasikan juga bahwa ada orang terpapar virus ini tanpa tanda-tanda gejala. Menakutkan!!, karena kita menghadapi virus bak setan gentayangan.

Sepi nyenyet...nggegirisi” (sepi campur rasa takut dan was-was). Sejak Protokol Kesehatan Pencegahan COVID-19 diberlakukan...dunia serasa tenang, lengang, udara lebih segar, langit kelihatan indah...tetapi tetap was-was. Dramatis karena terminal sepi, bandara sepi, mall tutup, cafe-cafe tutup, jalanan lengang, sekolahan sepi, universitas sepi... Acara-acara yang mengundang masa atau peserta berhenti, pesta perkawinan ditunda, lokakarya, seminar, rapat ditunda, bahkan upacara kematian sepi pelayat. Desa-desa, dusun, dan perumahan diberi “palang pembatas” tamu dilarang masuk...bagaikan akan ada demo masal perusak, perompak, atau perang antar kampung yang bisa bikin kacau balau.

Akhirnya perekonomian mulai terpuruk. Banyak Pemda takut atau malu dikatakan wilayahnya masuk “zona merah”. Pelabelan zona merah semakin diperkecil teritorialnya, mungkin untuk menumbuhkan kewaspadaan atau penebar rasa takut agar orang makin berhati-hati: kecamatan zona merah, mall yang kena zona merah, bank yang disinyalir zona merah, pasar yang zona merah, dll. Hebatnya lagi, propaganda mengenai “zona merah” itu teritorialnya semakin di persempit mencapai titik terkecil dalam kebudayaan manusia: yaitu keluarga.

Kluster Keluarga COVID-19

Beberapa bulan kemudian sejak pandemi COVID-19 menebar, baru muncul fakta dan data tentang adanya kluster keluarga COVID-19. Ini terbukti dengan adanya fakta bahwa di dalam keluarga ada beberapa anggota keluarga yang positif COVID-19. Saya tidak begitu kaget dengan kasus kluster keluarga ini, sebab sejak ditemukannya data pertama kali seseorang positif COVID-19, saya sudah menduga keluarga cepat atau lambat pasti akan kena imbasnya. Bukankah setiap individu memiliki keluarga?! Memang aneh, fenomena COVID-19 ini bagaikan fenomena “gunung es”. Orang sampai tidak terbuka, tidak terima kalau anggota keluarganya diduga, ditengarahi, apalagi ditetapkan positif COVID-19. Orang terjangkiti virus ini bagaikan dipandang sebagai “pendosa”. Penyakit COVID-19 seakan-akan penyakit para pendosa. Apalagi secara medis, memang perlakuan standardnya harus “disendirikan”, semacam direhabilitasi atau dikarantina ditempat khusus. Kemudian berkembang menjadi “karantina mandiri” sebab tidak ada tempat lagi pelayanan publik mampu menampung orang dengan gejala kasus maupun kasus positif yang melonjak cepat.

Pada komunitas-komunitas etnis atau suku-suku tertentu ada perilaku adat yang “menyingkirkan”, menyendirikan, semacam membuang atau menjauhkan anggota masyarakat tertentu yang terkena “penyakit” aneh. Penyakit aneh sebab orang-orang yang terkena penyakit ini tidak mampu lagi disembuhkan oleh “sang dukun”, atau tetap saja tidak sembuh setelah diadakan ritual adat penyembuhan. Mereka disingkirkan jauh dari komunitas agar tidak menulari, sampai ajal menjemput. Sisa-sisa struktur perilaku semacam itu masih ada di zaman modern ini, tentu dengan penanganan medis yang lebih modern, seperti misalnya orang dengan penyakit lepra, ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) apalagi yang dipasung, orang dengan penyandang kebutuhan khusus, dll. Dan saat ini yaitu, orang dengan kasus positif COVID-19.

Keluarga adalah tempat, atau lokasi, atau katakanlah teritorial terkecil dari sebuah komunitas dan masyarakat beserta kebudayaannya. Disanalah diproduksi,  diregenerasi sekaligus diperbaharui interaksi sosial, produksi norma dan tatasusila, disosialisasikan nilai-nilai mengenai kebaikan-keburukan, sopan santun, kasih sayang antar sesama, cinta, toleransi atas perbedaan, semangat hidup, serta kreativitas manusia. Berpelukan, mengelus-elus, mengusap muka anak, menyuapi, berjabat tangan, beridkusi di meja makan, bercerita tentang kepahlawanan-pengorbanan-cinta sesama, dll merupakan beberapa praktik-praktik paling bagus dan indah di dalam keluarga. Atas nama meredam pandemi COVID-19 mampukah protokol social-distancing dan physical distancing membatasi perilaku-perilaku kebudayaan manusia di dalam keluarga?

Saya tidak berani mengajukan faktar secara teoritik dan ilmiah karena keterbatasan saya memperoleh informasi tentang hal itu. Namun sejauh pengamatan saya terhadap keluarga-keluarga di lingkungan tempat tinggal saya (entah keluarga muda maupun keluarga yang sudah punya anak gede-gede), dilingkungan saudara-saudara saya sendiri, maupun di lingkungan keluarga teman-teman saya, saya cukup berani memastikan bahwa social-distancing dan physical distancing tidak mampu berbuat banyak. Hanya cuci tangan dengan sabun, basuh muka, atau mandi setelah pergi jauh, itu yang bertahan. Itupun tidak dengan disiplin tinggi. Menerima tamu dan handai tolan, sudah mulai amat terbuka. Lepas masker, itu yang jelas-jelas terjadi di dalam keluarga. Apakah semua itu mau di sweeping? Silahkan saja kalau pingin cari gara-gara dan chaos!!

Sepertinya sudah tidak ada rasa takut terkena COVID-19 di dalam keluarga. Kalau was-was mungkin tetap saja ada. Hantu gentayangan virus COVID-19 hanya ditakuti di tempat-tempat publik. Itu pun nampaknya sudah tidak terlalu menakutkan. Lihat saja di jalanan mulai ramai dan semrawut, cafe-cafe mulai ramai, warkop penuh, bank-bank juga mulai antri banyak orang, pasar pun penuh sesak pedagang dan pembeli. Bahkan ada pedagang-pedagang pulang pergi antar kota yang berjualan di pasar tertentu antara Yogya-Solo-Klaten-Boyolali-Magelang-Purworejo, dll.

Tentang Kepunahan, Kematian dan Kebudayaan

Sejarah kematian di dalam proses hidup manusia dan komunitasnya oleh sebab penyakit, virus, bakteri, atau apa saja dalam istilah medis sudah berlangsung sangat panjang, mungkin sudah berabad-abad. Pertama-tama yang terjangkiti pastilah “individu” yang merupakan anggota sebuah keluarga. Yang sejauh saya kenal, kelahiran angkatan 1963 an, yaitu seperti lepra, malaria, demam berdarah, pembantaian komunitas atas ras Yahudi, flu burung, dan yang terakhir ini virus Corona. Kakek nenek moyang kita, atau pada zaman Majapahit, zaman Mesir Kuno, mungkin sudah banyak penyakit atau virus yang melanda umat manusia dan kebudayaannya secara berganti-ganti. Mungkin oleh karenanya, ada pula komunitas kebudayaan manusia yang terlalu kecil secara jumlah dan teritorialnya, yang kemudian punah tanpa kita ketahui sejarahnya.

Sampai detik ini manusia dan kebudayaannya tetap eksis. Eksistensi ini bahkan masih bisa ditelusuri sejarah kebudayaannya yang berakar beratus-ratus abad yang lalu. Jadi kesimpulan saya dengan pengetahuan sempit ini adalah, bahwa manusia melalui kebudayaannya, telah menciptakan perangkat pengetahuan untuk mengatasi krisis yang menyerang kehidupannya, baik krisis akibat perang, akibat penyakit, akibat virus, bencana alam, krisis langka pangan, dll. Semakin berat-menghujam krisis itu, kebudayaan manusia juga cepat atau lambat akan menyesuaikan dan mampu mengatasinya.

Proses seseorang menuju kematian selalu menumbuhkan rasa takut, kekecewaan dan penyesalan, kesedihan, bahkan depresi berkepanjangan, baik bagi yang sedang sekarat maupun anggota sanak-keluarga dan handai taulan. Krisis yang menyebabkan kematian selalu datang lebih awal, kemudian proses upaya penyembuhan atau penyelamatan, kemudian jika gagal terjadilah kematian. Selalu ada jeda waktu, yang bisa saja sangat panjang, antara krisis dan kematian. Manusia melalui perangkat kemampuan pikir dan kebudayaannya, menciptakan setidaknya dua hal. Pertama adalah kemampuan untuk menangkal atau mengobati, termasuk di dalamnya ritus pegobatan secara adat. Kedua adalah seperangkat prosesi adat-budaya termasuk nilai spiritualitas mengenai kematian. Kedua perangkat itu bermuara untuk mengurangi rasa takut, meredam kekecewaan dan kesediahan, respek atau memberi penghormatan, memaknai ulang arti kematian, dan menghidupkan “kenangan”.

Perangkat perilaku, norma, dan tata-nilai seputar menuju kematian dan kematian itu sendiri ternyata sangat bervariasi di setiap komunitas kebudayaan masyarakat. Seperti ditulis James Gire (2014)[1] “... even though we may use the same words to describe death, the actual meaning and conceptualization of death differs widely across cultures”. Konsepsi Barat tentang definisi kematian, yang sangat bersifat klinis-medis ....referring to the absence of heartbeat and respiration, was the basis on which a person was deemed to be dead.

Pada beberapa etnis di budaya Pasifik Selatan, kematian didefinisikan sebagai perjalanan sang tubuh menuju ke bentuk yang lain. Kematian tidak ubahnya bagaikan orang yang sedang tidur. Kematian, pada kelompok-kelompok budaya tersebut, dengan demikian bisa terjadi berkali-kali. Pada kelompok-kelompok etnis dengan budaya berbasis Hinduisme, ditambahkan dalam papernya James Gire, bahwa kehidupan ini bagaikan sebuah pola bentuk, kematian hanyalah satu jalan untuk terlahir kembali pada pola kehidupan baru. Mungkin inilah yang dimaksud dengan “reinkarnasi”. Kematian ternyata sebuah “reborn” (terlahir kembali). Saya menjadi mengerti mengapa rangkaian ritual kematian dalam masyarakat Hindu di Bali, termasuk mungkin adat ngaben, dirayakan penuh kemegahan dan kemeriahan. Merayakan “kelahiran kembali” dengan dihiasi ritual adat tarian, arak-arakan, dipenuhi ornamen budaya yang rumit-indah dan megah.

Pada komunitas masyarakat berbasis agama Samawi, hanya dikenal satu kali kematian, yaitu kematian ragawi (body), yang ditandai mirip dengan definisi kematian klinis-medis Barat. Namun mereka percaya bahwa roh atau jiwa si mati tetaplah hidup untuk menuju ke kehidupan baru sesuai amal perbuatannya selama masih hidup. Berkaitan dengan hal terakhir ini, maka dikenal konsep kehidupan “surga” dan “neraka”. Belum pernah terdefinisikan secara pasti bagaimana bentuk kehidupan di surga atau neraka itu. Namun nampaknya surga adalah untuk hal yang baik-baik, dan kehidupan neraka adalah untuk hal yang buruk dan sengsara. Kedua bentuk kehidupan tersebut selalu dikaitkan dengan “amal perbuatan si mati selama masih hidup”. Tidak ada satupun manusia yang masih hidup ingin nantinya hidup di neraka, begitulah kira-kira. Oleh karena itu, seorang bajingan, pembunuh, perampok, koruptor kelas kakap, dll selalu didoakan oleh manusia yang masih hidup, agar dosa-dosanya diampuni dan diterima dikehidupan surgawi.  

Ketakutan Akan Kematian dan Kenangan

Seperti sudah saya singgung sebelumnya, kematian manusia dari zaman ke zaman oleh karena virus, penyakit, kelaparan, atau pembantaian etnis dan bencana alam, sudah silih berganti terjadi. Pun mungkin sudah pernah kita dengar dan lihat “pemakaman masal”, dimana bertumpuk-tumpuk jenazah dijadikan satu dalam satu pemakaman, yang mungkin sudah sulit dikenali oleh keluarganya. Agama dan adat kebudayaan manusia tetap memuliakannya dengan prosesi dan doa-doa. Tetapi saya merasakan, berhadapan dengan virus COVID-19 ini agak cukup jelas terasa ketakutan manusia akan kematian.

Orang-orang tidak terima mati hanya gara-gara COVID-19. Padahal kematian bisa disebabkan oleh banyak hal: kepleset di kamar mandi bisa menyebabkan mati; insiden tabrakan, penyakit jantung, stroke dan darah tinggi, demam berdarah, malaria, gagal ginjal, perang, demo masal, dan bermacam-macam lainnya. Ketika COVID-19 ini merebak, geng yang ditakuti di Yogya yakni “geng klithih”, nampaknya juga melempem tak bergerak. Takut juga rupanya mereka dengan virus setan tak terlihat COVID-19.

Proses menuju kematian dan kematian itu sendiri mungkin menakutkan! Proses menuju dan kematiannya sendiri, oleh si sekarat mungkin sudah terbayangkan sangat merepotkan, menyedihkan, atau menyisakan penyesalan yang tidak terselesaikan. Oleh karena itu, di dalam papernya James Gire, dari sudut kesiapan dijemput sang ajal, dipaparkan adanya jenis kematian “yang wajar” dan jenis kematian “yang tidak diharapkan”. Pada orang-orang jompo dengan umur panjang, mereka digambarkan lebih siap menerima kematian, begitu pun sanak saudaranya lebih siap menerima kematiannya. Kematian yang tidak diharapkan adalah kematian yang sifatnya mendadak seperti kecelakan, serangan jatung, dibunuh, epidemi, akibat demam berdarah, dll. Keluarga si mati tentu saja juga tidak siap, tidak terima, teramat sulit untuk pasrah.Termasuk dalam jenis ini, nampaknya kematian akibat virus COVID-19.

Menariknya, di dalam paper James Gire (2014) “How Death Imitates Life: Cultural Influences on Conceptions of Death and Dying”, dipaparkan pula bahwa ketakutan akan “kematian yang tidak diharapkan” sangat bervariasi di antara kelompok kebudayaan dan keagamaan. Singkatnya adalah, manusia berusaha untuk mengatasi ketakutan atas sebuah kematian dengan menciptakan atau mengkreasikan pandangan mengenai dunia baru “sesudah mati”. Oleh karena itu, kehidupan agama sebagai bagian dari kebudayaan manusia telah dirumuskan sedemikian rupa untuk mengatasi atau menerima peristiwa kematian, baik kematian yang wajar maupun kematian yang tidak diharapkan[2]. Implikasinya adalah bahwa orang yang berasal dari budaya-agama yang cukup kuat sistem kepercayaannya atas adanya kehidupan sesudah mati, lebih mampu atau cepat menerika/meredakan ketakutan atas kematian. Sementara orang yang hidup dari sistem budaya-agama yang tidak/kurang kuat sistem kepercayaannya atas adanya kehidupan sesudah mati, cukup tinggi ketakutannya atas kematian apalagi kematian yang tidak diharapkan.

Dari sudut bahasan yang lain, kematian itu akan menumbuhkan “kenangan”. Keterpisahan jarak saja menciptakan kenangan, apalagi kematian. Upacara atas kematian seseorang akan begitu-begitu saja bentuk dan jenisnya, tergantung pada budaya dan agamanya. Bahkan si mati saja sudah tidak tahu bahwa dia sedang diberikan ritual-prosesi kematian. Imaji si mati tentang surga dan neraka, seperti saat dia masih hidup,  pun mungkin lenyap seketika saat dia mati. Kita manusia yang masih hidup inilah yang mengkonstruksi imaji “kenangan”, dengan cara sewajarnya tetapi kadang juga teramat aneh dan berlebihan. Kita memasang foto mereka yang sudah meninggal di rumah kita dan membuat tempat nisan yang indah-rapi di pekuburannya. Tapi juga, tahukah Anda ada pekuburan yang milyaran rupiah harganya. Namun sebagaimana kata pepatah, kehidupan itu ada batasnya. Kematian pun memiliki batasnya, begitu pula daya mampu kenangan manusia pun terbatas oleh waktu dan zaman.

Kenangan bisa saja berupa kenangan atas kebaikan, kebahagiaan, kesederhanaan, kemewahan, kedermawaan, kehangatan pergaulan, dll dari si mati. Tetapi bisa juga kenangan atas keburukan, keculasan, kelicikan, perilaku buruk, dll dari si mati. Socrates, Aristoteles, Michael Angelo, Mahatma Gandhi, Suster Teresa, Soekarno, Hatta, dll sebagai contoh saja, kita kenang karena kehidupannya yang unik, jiwa kepahlawanannya, bermanfaat bagi orang banyak, semangatnya, dll. Tetapi juga kita kenang pula sosok Hitler, Nietche, Musolini, dll sebagai orang kejam, tak beperikemanusiaan, dan ateis. Ada juga dari kedua kelompok ini yang menjadi legenda.

Persoalannya benarkah kita mengenal mengenang mereka sebagai sosok pribadi, ataukah kita sesungguhnya tinggal mengenal melalui buku-buku saja, papan nama jalan, nama rumah sakit, nama stasiun, dll. Ada banyak lagi orang baik, dan juga orang jahat, di masyarakat kita atau di bangsa negara kita yang tidak kita kenal, apalagi kita kenang. Beberapa generasi dari kita saat ini, apalagi berpuluh generasi kemudian, besar kemungkinan sudah lupa!

Adakah Konspirasi Dibalik COVID-19?

Saya sesungguhnya tidak berani menjawab pertanyaan di atas, apalagi dengan keterbatasan informasi dan kemampuan jangkauan olah pikir saya. Tetapi iseng-iseng saya ingin mencoba menjawab sejauh kemampuan logika saya saja. Harus kita akui bahwa akhirnya pandemi COVID-19  bukan hanya persoalan medis semata. Dampak yang ditimbulkan sudah begitu luas mencakup masalah ekonomi, budaya dan interaksi sosial, terpuruknya berbagai jenis bisnis, bahkan mungkin juga politik baik politik lokal, nasional, dan internasional. Bukankah mulai ada negara yang jelas melarang warga dari negara yang penanganan pandemi COVID-19 dinilai kurang baik, masuk ke negara dimaksud?!

Ada bisnis multinasional yang teramat besar saat ini, yaitu bisnis farmasi untuk menjual anti virus COVID-19. Negara-negara besar dan atau perusahaan farmasi multinasional, saya yakin tengah berlomba mengerahkan dana dan tenaga ahlinya untuk menciptakan anti virus dimaksud. Kabarnya Indonesia akan membeli anti virus COVID-19 dari Tiongkok, dan sesegera mungkin akan diberikan secara bertahap mulai dari para medis, kepolisian, mereka yang bekerja di sektor jasa dan publik, dan seterusnya. Mengapa beli dari Tiongkok? Apakah mereka yang sudah lebih dulu melakukan percobaan anti virus dimaksud dan cukup memberikan harapan? Apakah negara-negara lain belum ada yang seberhasil Tiongkok? Kalau benar Tiongkok lebih maju dan mendahului dalam penemuan anti virus dimaksud, mengapa WHO tidak segera memberikan pernyataan resmi?! Semuanya wallahualam...tetapi agak cukup jelas konspirasi internasional sudah turut bergerak.

Penutup

Berita resmi maupun yang katakanlah “tidak resmi” mengenai merebak-merajalelanya pandemi COVID-19 ini, bagaikan teror yang terencana sistematis. Seperti cukup terencana bahwa teritorial teror itu semakin-lama semakin diperkecil hingga yang disebut kluster keluarga. Namun seiring berjalannya waktu, nampaknya masyarakat seperti sudah tidak peduli. Secara tidak disadari mungkin ingin mengatakan “..ahh mati bukan karena COVID-19 saja!”. Yang jelas kita harus ikuti protokol yang sudah berlaku yaitu hidup sehat, pakai masker, menjaga jarak, dan sering-sering cuci tangan.

Pandemi COVID-19 seperti mengajarkan kepada kita bahwa hidup semakin tidak pasti. Kita secara individu bisa saja tidak tahu kita ini pembawa virus atau tidak. Orang yang kita perkirakan cara hidupnya sehat, rumahnya bersih, pergaulannya tidak sembarangan, ehh ternyata terkena COVID-19. Mereka yang hidup di wilayah-wilayah kotor dan kumuh, banyak yang tidak terkena COVID-19. Tidak pernah saya dengar ada kluster gelandangan dan orang yang hidup di jalanan, terkapar mati di trotoar karena imbas virus COVID-19. Jangan-jangan imun tubuh mereka lebih mantab dari pada kita yang sok hidup bersih. Atau kematian mereka tidak perlu diberitakan karena mereka dipandang sebagai individu yang tidak penting di dalam masyarakat. Saya cukup yakin mereka tidak takut mati karena COVID-19. Mereka lebih takut terhadap kelaparan yang lebih nyata dihadapi setiap jam setiap hari!

Strugle in life jangan hanya karena ingin terhindar dari COVID-19. Berjuang dan bertahan hidup karena memang masih banyak yang harus dilakukan manusia dalam hidup: berkarya, bergaul dengan orang lain, bekerja untuk mencari makan, berderma, berkumpul dengan sanak keluarga, saling memberikan semangat, menjalankan ibadah agama, dll. Peristiwa kematian, secara agama dan kebudayaan, sudah disiapkan ritus dan prosesinya berabad-abad lalu oleh yang masih hidup. Kenangan akibat peristiwa kematian, bagaikan hidup itu sendiri, yakni terbatas dan tidak abadi. 

Tidak relevan lagi kita takut mati karena pandemi COVID-19!!!


#  #  #



[1] How Death Imitates Life: Cultural Influences on Conceptions of Death and Dying. Copyright © 2014 International Association for Cross-Cultural Psychology. All Rights Reserved. ISBN 978-0-9845627-0-1 ( https://doi.org/10.9707/2307-0919.1120).

[2] Dengan mengutip dari van Biema, D. (2001, December 17). Suicide attacks: Why the bombers keep coming.
Time. Retrieved from http://www.time.com  dan Roggio, B. (2012, June 17). Boko Haram suicide bombers target Nigerian churches [Web log post]. Retrieved from http://www.longwarjournal.org/threat-matrix/archives/ 2012/06/boko_haram_suicide_bombers_tar.php, James Gire menambahkan bahwa perilaku “bom bunuh diri” yang pernah terjadi di Timur Tengah saat perang Irak-Iran, sesungguhnya bukanlah budaya-religiusitas kaum Muslim. Intinya yaitu bahwa munculnya praktik bom bunuh diri adalah hasil “cuci otak” kreasi teologis-ekstrim kelompok-kelompok tertentu atas janji kehidupan suci sesudah mati. Praktik bom bunuh diri tersebut pun sesungguhnya tidak mendapatkan perhatian antusias oleh orang-orang Muslim di sana.

Monday, August 24, 2020

Reflection on Gossip

Gosip...Gosip...Gosip...

Oleh: Emil E. Elip

 

Film pendek “Tilik” (menjenguk), yang ditayangkan di youtube sejak 24 Agustus 2020, per artikel ini ditulis (jadi baru 6 hari) sudah meraup 10.653.573 Views 288K Suscribers, dan 62.142 Comments (https://www.youtube.com/watch?v=GAyvgz8_zV8). Mungkin sudah lebih. Ini luar biasa sebagai film lokal, berbahasa lokal bahasa Jawa, dan dibintangi pemain-pemain lokal (sebagian besar perempuan). Film “Tilik” ini unik dan sangat kental Jawa.

Ritual: Budaya “Tilik”

Film diawali dengan sekelompok ibu-ibu yang berdiri di bak truk belakang. Melalui jalanan pedesaan berliku. Tilik (menjenguk) terhadap seseorang atau keluarga, biasanya dilakukan karena orang tersebut, atau anggota keluarganya, misalnya sedang sakit parah. Tilik bisa dilakukan sendiri, berdua, sekelompok, satu truk atau bus, dll. Di daerah pedesaan yang cukup jauh biasanya satu kelompok besar. Kali ini si ibu-ibu terpaksa menyewa truk, darurat, karena sewa bus sudah penuh.

Orang desa, seperti digambarkan ibu-ibu di dalam film itu, tidak terbiasa dalam keterisolasian. Sebagai tata nilai budaya, Tilik itu norma. Norma[1] yang memiliki kekuatan kohesivitas dan konformitas. Kehosive karena mereka lebih senang melakukannya bersama-sama, sementara konformitas adalah bentuk pengaruh sosial agar mengikuti norma yang sudah ditentukan. Itu sebabnya jika nanti Bu Tejo atau Yu Ning sakit atau kerabatnya sakit dan harus mondok di rumah sakit, ibu-ibu desa tersebut akan “Tilik”. Entah keluarganya sedang repot, entah ada uang atau tidak –misalnya untuk iuran bensin dan iuran amplop (nyumbang)— kalau sudah ditetapkan mereka akan berangkat. Begitu seterusnya terjadi secara bergulir. Jadi, kalau boleh menyebut dengan istilah yang lain, budaya Tilik itu sudah menjadi “ritual” orang desa sebagaimana di gambarkan dalam film itu.

Gosip? Isu? Kenyataan?

Dikisahkan dalam film, dari dalam bak truk itu segala issu dimulai: gosip! Cerita diawali oleh Bu Tejo. Dia mempersoalkan wanita muda cantik masih bujang, Dian namanya. Dian tidak jelas pekerjaannya, tapi menurut Bu Tejo barang-barangnya mewah dan mahal. Baru satu tahun bekerja sudah beli motor bagus. Kerja macam apa seperti itu baru sebentar sudah punya barang-barang mewah, tambah Bu Tejo dalam bahasa Jawa yang kental dan bernada ngenyek (mengejek). Bu Tejo juga pernah memergoki si Dian muntah-muntah, sehabis mahrib di pengkolan jalan desa. Ehh...tidak menyapa malah si Dian ngeloyor pergi. Muntah-muntah kan tidak harus berarti meteng (hamil), tukas seorang ibu. Bu Tejo juga tidak kurang akal, “Saya kan tahu bedanya muntah karena hamil sama muntah karena masuk angin. Orang saya juga punya anak!”.

Entah kenapa, jelas sekali kerling mata Bu Tejo ditujukan untuk Yu Ning. Ibu satu ini juga selalu membantah, mematahkan, menuduh memfitnah kepada Bu Tejo, sejak awal gosip mulai bergulir. “Fitnah itu dosanya besar”, tukas Yu Ning, yang ternyata Dian adalah keponakan-nya (masih berhubungan saudara). Semua ibu-ibu di dalam truk pun mulai “panas” nampaknya. Tetapi ada yang hanya berpaling atau diam saja mendengar perseteruan gosip antara Bu Tejo dan Yu Ning. Akhirnya Bu Tejo, untuk menyakinkan kebenaran yang dia katakan, mengeluarkan HP dan menyuruh ibu-ibu melihat foto-foto Dian di dalam HP. Sontak....hampir semua ibu-ibu berteriak-terperangah!! “Wooo...kerjanya nyambi to”, tukas seorang ibu, “Makanya ada yang pernah bilang dia melihat Dian jalan-jalan di Mall sama Om Om”. Situasi ini dimanfaatkan Bu Tejo untuk menekankan pada ibu-ibu, kalau punya HP jangan hanya untuk gaya-gayaan, tetapi cari berita. Digosipkan pula bahwa anak seperti Dian akan membahayakan suami para ibu-ibu tersebut. “Kalau aku sudah tidak khawatir...karena tempat bapak udah nggak bisa berdiri”, celetuk salah satu ibu. “Saya tidak bermaksud apa-apa...hanya mengingatkan kita perlu berhati-hati”, tambah Bu Tejo[2].

Gosip dan Menekan Konflik

Tidak ada konflik fisik di dalam gosip. Norma yang sudah ditetapkan menekan setiap invidu selalu konformis dan kohesif. Saya setuju dengan tulisan yang dikutip Ida Rochmawati, dalam tulisannya tentang film “Tilik” ini juga, bahwa menurut Foinberg bergosip membantu menenangkan tubuh. Saat orang sedang bergosip bagian otak prefrontal cortex (PFC) yang berfungsi sebagai eksekutor bertanggungjawab agar nilai-nilai moral menjadi lebih aktif. Bagi saya gosip tidak hanya harus tentang hal negatif. Dia bisa saja mengenai hal-hal positif tentang nilai perjuangan, kerja keras, bekerja dengan kejujuran, ketulusan hati...dari seseorang yang sedang menjadi subyek gosip. Hanya saja dalam film Tilik ini, kasusnya adalah gosip bernada negatif.

Bagian inilah yang membuat film Tilik ini amat njawani (sangat budaya Jawa), yakni tidak ada konflik fisik. Percekcokan antara Bu Tejo dan Yu Ning meski sempat memuncak, namun selalu diakhiri dengan diam hening, untuk kemudian dimulai lagi dengan awalan cerita yang lain lagi. Bahkan gosip yang sempat rame itu seakan-akan tidak pernah terjadi ketika truk yang ditumpangi mogok, dan secara bersama-sama semua ibu-ibu turun dan ikut mendorong. Gosip itu juga seakan “hilang” ketika truk tersebut dicegat polisi karena menyalahi peraturan. Dan bahkan secara bersama-sama ibu-ibu saling berteriak kepada Pak Polisi untuk “minta kebijaksanaannya” karena waktu sudah mepet dan segera harus sampai rumah sakit untuk tilik Bu Lurah. “Pokoknya kami harus segera sampai rumah sakit, titik”, tukas seorang ibu. Pak Polisi tidak bisa berbuat apa-apa, dan meloloskan trus tetap berjalan.

Akhir Cerita!!

Setelah truk ibu-ibu itu sampai rumah sakit dan ditemui oleh Dian dan Fikri (anak Bu Lurah yang sedang sakit), diceritakan bahwa para ibu tidak bisa masuk ke rumah sakit karena Bu Lurah sedang di ICU. Para ibu kecewa tetapi akhirnya bisa menerima. Mereka kemudian pulang. Naik truk lagi.

Pada episode akhir cerita, si Dian keluar dari rumah sakit dan masuk ke mobil sedan mewah. Di dalam mobil menunggu lelaki sudah cukup tua. Dian termenung dan kemudian bertanya kepada si lelaki, “Aku sudah jenuh hidup sendiri...tetapi apakah Fikri sudah siap kalau bapaknya mau kawin lagi...”. Jawab si lelaki, “Sudah, kamu tenang saja...ikuti kata saya saja”, sambil memegang tangan Dian.

 

Yogyakarta, Agustus 2020.

 



[1] Norma itu mengindikasikan kelompok serta menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh kelompok (Psikologi Lintas Kultural: “Pemikiran Kritis dan Terapan Modern”, Eric B. Shiraev dan David A. Levy: 2012-Kencana Prenada Media Group).

[2] Gosip memang tidak harus berkonotasi jelek (negatif). Sekelompok orang yang sedang bergosip, seperti ditulis dalam “Gossip as Cultural Learning” (Roy F. Baumeister, Liqing Zhang, dan Kathleen D. Vohs, 2004, Review of General Psychology, Vol. 8, No. 2, 111–121), sesungguhnya sedang belajar, mengulang, atau menginternalisasi kembali nilai-nilai yang berlaku dan bekerja di dalam masyarakatnya. Tokoh utamanya memang Bu Tejo dan Y Ning. Tetapi semua ibu-ibu itu juga mendengarkan, belajar bersama juga. Gosip adalah bagian dari kebudayaan manusia, tidak hanya untuk orang desa saja tetapi juga bagi orang-orang modern di kota.

Wednesday, August 19, 2020

A Unique: Celebrating Indonesia's 75th independence day in the COVID-19 Pandemic

 Refleksi Merayakan 75 Tahun Kemerdekaan RI:

“PERASAAN KEBANGSAAN YANG UNIK”

 

Oleh : Emil E. Elip

 

Lepas dari kontroversi tidak beralasan mengenai gambar atau logo Kemerdekaan RI ke-75, yang dituduh bernuansa gambar “salib”, perayaan 17-an yang lalu berjalan dengan lancar. Meski tidak semeriah biasanya. Lomba-lomba di tingkat kampung tidak ada, upacara-resmi peringatan Perayaan 75 Tahun Kemerdekaan juga banyak tidak dilakukan. Perayaan kali ini memang sepi dibawah bayang-bayang pandemi COVID-19.

Tetapi yang jelas, tanggal 17 Agustus 2020 pagi, istri saya yang PNS di instansi tertentu di Yogya, “geger”. Ribut dan kalangkabut, bertanya ini sudah jam berapa...sebab katanya dia harus mengikuti upacara Kemerdekaan RI ke-75. Saya juga bingung...lho mau upacara kemana orang dimana-mana tidak dilakanakan upacara termasuk di kantornya. Istri saya sibuk WA kesana kemari, bertanya ke teman-temannya bagaimana caranya ikut upacara. Ternyata banyak teman-temannya yang juga PNS juga tidak tahu cara dan bagaimana ikut upacaranya! Apa yang harus dilakukan. Pakai seragam apa?! Acara live-streaming mana yang harus di buka, apakah dari upacara di Istana Merdeka, upacara di Kantor Gubernuran DIY, atau kantor mana. “Apa tidak ada Juklak resmi”, tanya saya. Dia tidak menjawab saking bingungnya menunggu WA balasan dari teman-temannya.

Upacara “Pribadi” Yang Unik

Akhirnya ada informasi bahwa televisi di Yogya yang melaksanakan live-streaming adalah JTV (Jogja TV), sebuah TV swasta di Yogya. Istri saya ribut lagi...anak-anak dikerahkan untuk membuka HP masing-masing mencari alamat live-streaming JTV. Saya diperintahkan untuk menelusurinya lewat laptop. Akhirnya ketemu dan bagian tayangan yang ada yaitu pengibaran Sang Merah Putih di sertai lagu Indonesia Raya. Istri saya tidak segera mempersiapkan diri, justru malah ketawa-ketiwi melihat WA yang dikirimkan teman-temannya disertai gambar-gambar “upacara pribadi” yang unik dan lucu-lucu. Seperti misalnya:

§  Memakai seragam Korpri lengkap, berdiri tegak dan hormat sambil melihat TV di ruang tamu

§  Berdiri tegak sambil hormat, memegang HP tayangan live-streaming di warung sate. Istrinya yang disuruh memotret. Mereka tengah dalam perjalanan jauh dan makan pagi.

§  Berdiri tegak sambil hormat di dalam KRL, memegang HP tayangan live-streaming. Penumpang lain dimintai tolong untuk memotret.

§  Dll

Masih banyak “upacara unik” yang terjadi. Dengar kabar dari istri saya bahwa foto-foto sudah mengikuti upacara dimaksud, nanti dikumpulkan di kantor masing-masing. Semua terlihat aneh dan lucu sampai saya bertanya pada diri saya sendiri “kok bisa semua ini dilakukan”. Jelaslah bahwa selama ini kita tidak pernah melihat atau melakukan upacara Kemerdekaan RI dilaksanakan secara individual seperti itu. Kalau ornamen-ornamen gambaran kemerdekaan seperti memasang bendera, umbul-umbul, dan hiasan lain di kampung-kampung terjadi seperti yang sudah-sudah.

Perasaan Berbangsa dan Bernegara

Kita orang Indonesia terdiri atas berbagai, bahkan mungkin ratusan, suku-bangsa dan kelompok etnis yang lebih kecil. Kita bisa jadi amat berbeda satu sama lain, baik dalam kehidupan basis ekonomi, norma dan tatanilai yang dianut, yang semuanya itu juga mempengaruhi dunia spiritualitas dan ucara-upacara adat.  Eric B. Shiraev dab David A. Levy (2012) dalam bukunya “Psikologi Lintas Kultural” menyatakan bahwa kultur adalah atribut yang tidak bisa dipisahkan dari “kesadaran” manusia - kesadaran akan subyektifitas, sensasi, persepsi dan berbagai aktivitas mental lainnya. Itulah maka membahas mengenai kesadaran memang rumit. Orang-orang Jawa memiliki atribut kultural yang sangat berbeda dengan orang Bali. Berbeda lagi dengan orang Toraja, Flores, Papua, Maluku, Batak, Aceh, Dayak, dll. Tata nilai, mental, dan spiritualitas mereka tentang satu hal saja, perkawinan misalnya, sangat berbeda satu sama lain.

Tetapi...kita juga bernegara. Memiliki satu negara, yaitu Negara Republik Indonesia. Coba pikirkan kesadaran seperti apa, dari yang begitu beragam dan berbeda tersebut, kita memiliki kesadaran mental bersama: “bernegara Indonesia”. Kecuali kelompok kecil tertentu yang ingin merdeka untuk kedua kalinya dengan dasar kenegaraan lainnya. Apakah ini soal sejarah lamanya merdeka? Kita baru 75 tahun merdeka! Apakah ini soal toleransi budaya di Indonesia yang sangat tinggi? Hampir seluruh masyarakat kita dari berbagai suku-bangsa itu belum pernah bertemu satu sama lain, bagaimana bisa sharing toleransi!

Antropologi psikologis Hallowell[1], mencatat bahwa orang hidup di dalam satu lingkungan behavioral (representasi mental yang mengarahkan orang ke dimensi seperti waktu, ruang, dan dunia interpersonal). Kesadaran ini mengatur perilaku manusia secara adaptif di dalam lingkungan fisik dan sosial tertentu. Hallowell ingin menjelaskan bahwa setiap orang di dalam suatu budaya tertentu, sejak dia lahir, telah mulai belajar tentang interaksi sosial, tentang hal baik dan buruk, mengenai keadaan damai dan konflik/perang, bergotong-royong, harmoni, dll yang semuanya diikat dalam spiritualitas yang dianut bersama-sama. Meskipun mungkin berbeda-beda ekspresi kebudayaannya, tetapi ada titik mental-interpersonal tertentu yang menjadi perasaan atau dorongan emosional bersama.

Itulah sebabnya, meskipun dari Sabang sampai Merauke kita berbeda-beda budaya dan suku, ada mental-interpersonal di dalam kebudayaan kita masing-masing, bahwa hidup harmonis – di dalam budaya sendiri atau lintas budaya--  menjadi penting semuanya dan mungkin juga menjadi kebanggaan bersama. Oleh karena itu merayakan Kemerdekaan RI ke-75 dan hormat atas sanga Saka Merah Putih, bisa dilakukan oleh orang-orang dari lintas budaya di Indonesia. Tentu dengan cara yang bisa berbeda-beda sesuai ekspresi budaya masing-masing. Ada semacam dorongan mental emosional interpersonal bersama di sana, yaitu “berbangsa dan bernegara” Indonesia.

Dalam konteks yang semacam inilah maka kita semua merayakan Hari Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus. Hanya saja...kali ini...dalam ancaman pandemi COVID-19, kita merayakannya dengan sendiri-sendiri, sederhana, dimanapun kita mungkin sedang berada, tetapi unik, dengan makna yang kurang lebih sama!

Lega rasanya telah memotret istri saya memakai baju Korpri lengkap, berdiri dan menghormat pada Sang Saka Merah Putih, meski hanya melalui laptop... Saya merenungi peristiwa langka ini dibawah ancaman Pandemi COVID-19. Perasaan mental emosional “berbangsa dan bernegara” memang harus kita lakukan meski dibawwah ancaman apapun...!

 

^ ^ ^



[1] Lihat “Psikologi Lintas Kultural”: Pemikiran Kritis dan Terapan Modern: Eric Eric B. Shiraev dan David A. Levy (Edisi Keempat-2012), Kencana Prenada Group-Jakarta.

Tuesday, August 18, 2020

COVID-19 and Reflection on The Aspec of Life

COVID-19 DAN REFLEKSI ATAS ASPEK KEHIDUPAN

Oleh: Emil E. Elip

 

COVID-19 sungguh merupakan pandemi yang luar biasa. Sejak virus itu menyebar, semua negara menerapkan social-distancing dan physical distancing. Kedua kata itu seperti istilah sederhana saja, tetapi ternyata dampak di masyarakat di semua negara sungguh luar biasa. Hampir-hampir merusak berbagai segi kehidupan seperti perekonomian masyarakat, interaksi sosial, pencarian bentuk-bentuk budaya baru, kebiasaan melakukan ritual agama, menghancurkan pariwisata, jasa transportasi, pola makan, tatanan baru berkumpul, pola migrasi penduduk, bisnis perhotelan, bisnis pertunjukan dan berkesenian, bahkan mungkin pencarian baru atas arti hidup dan spiritualitas. Tulisan ringkas ini ingin menggambarkan dan sebisa mungkin menganalisa beberapa hal paling mendasar yang terjadi di masyarakat, yang memerlukan pencarian pemaknaan baru.

Interaksi Sosial Yang Mau Seperti Apa?

Sudah sejak lama para filsuf dan pakar sosial intinya mengatakan, bahwa  interaksi sosial merupakan sendi dasar perilaku manusia untuk saling berhubungan/berelasi, terutama dalam bentuk fisik untuk bertemu dan berbincang. Kata Aristoteles manusia adalah “hewan sosial”. Kita bisa tumbuh dengan baik karena mengorganisasikan diri kita sendiri ke dalam kelompok dan bekerja sama[1]. Melalui interaksi sosial itu sekelompok orang bisa membahas bisnis, politik tatanegara, merencanakan sesuatu, mempererat tali persaudaraan, bahkan juga berkampanye, demo, berperang, melaksanakan ibadah agama bersama-sama, menggali teori-teori tentang kehidupan, dll.

Semua interaksi sosial dalam bentuk “lama” itu, rusak (kalau tidak boleh disebut hampir hancur) oleh pandemi COVID-19. Orang tidak boleh berkerumun atau berkumpul, dalam berbagai bentuknya seperti gotong-royong, arisan, rapat-rapat RT atau RW, berseminar/workshop, dan pelatihan, bahkan banyak kasus di berbagai desa atau perumahan orang “dilarang masuk” atas nama demi mencegah penyebaran virus COVID-19. Gereja, masjid, Vihara atau tempat-tempat lain dimana orang ingin melaksanakan ritus keagamaan atau kepercayaannya, sementara ditutup. Event-event budaya dan upacara-upacara adat, terpaksa dihentikan. Pertanyaannya, lantas dimana lagi atau kemana lagi orang akan melakukan “interaksi” sosial. Dengan cara apa orang-orang ingin saling memberikan-menerima “makna hidup”, yang sudah dilakukan berabad-abad itu.

Ada ketakutan sosial yang amat berlebihan karena pandemi COID-19 ini, yaitu orang saling menarik diri. Orang atau saudara sakit, sedikit atau sangat dibatasi jumlah penjenguknya. Kematian sedikit yang melayat. Sesama saudara saja kalau bertemu harus duduk saling berjauhan. Dan masih banyak contoh lain. Orang cenderung menarik diri atau menghindari “berkelompok”. Padahal kata Roy Baumaester[2], dalam bukunya Culture Animal, manusia lebih dari hewan karena memanfaatkan kekuatan “budaya” untuk menjalani hidup lebih baik. Budaya adalah cara yang baik untuk menjadi sosial.

Nampaknya dan itu yang sedang dilakukan masyarakat, mereka memanfaatkan teknologi komunikasi melalui internet dan HP. Melalui media itu antar manusia masih bisa saling bersapa, saling menguatkan dalam masa “pageblug” pandemi COVID-19. Bahkan orang bisa saling bertemu muka untuk berbincang dan berdiskusi melalui applikasi webinar. Sejauh yang pernah saya ikuti, metode webinar ini pun mutunya tidak akan pernah mampu sebanding dengan jika kita melaksanakan seminar, lokakarya, atau pelatihan seperti yang “lama”.  Belanja on-line menjadi tranding baik untuk beli pakaian, sayur-mayur, bumbu dapur, daging, dll. Pada sisi yang lain upaya pengumpulan dana sosial atau dana bantuan pun masih bisa dilakukan, dan tidak sedikit pula yang mampu terkumpul. Tetapi kalau diamati secara cermat, toh akhirnya orang tidak bisa menghindari interaksi cara lama “face to face” untuk melaksanakannya. Belanja on-line butuh tatapmuka para pengantar, para pekerja pensupplay barang, atau-orang-orang yang mengimplementasikan “dana bantuan” yang sudah terkumpul kepada para sasaran bantuannya tetap butuh interaksi.

Sudah semacam tidak kuat lagi untuk tidak saling “berinteraksi” dengan cara lama. Itulah kesimpulan sementara yang saya tangkap dari apa yang terjadi akhir-akhir ini, sejak New Normal diterapkan. Konsep New Normal tidak berarti bahwa semuanya sudah pulih. Dalam banyak sekali informasi dan anjuran, New Normal tetap memungkinkan terjadinya penyebaran virus COVID-19. Buktinya di banyak daerah kasus positif COVID-19 tetap merambat naik.

Nampaknya orang-orang sudah tidak peduli!!! Kini keinginan untuk saling berinteraksi jauh lebih kuat dari pada sekedar ketakutan atas penyebaran virus COVID-19 dan mendekam di rumah saja. Maka pasar-pasar tradisional ramai kembali. Tempat-tempat nongkrong apapun bentuknya, mau kaki lima, cafe, warung kopi tenda, mulai dipenuhi orang. Jalan-jalan pun sudah penuh kendaraan. Di tempat manapun, ditempat-tempat umum, yang dulu selalu ada tempat cuci tangan dan sabun, kini masih tetap ada tetapi orang-orang sudah mulai malas cuci tangan.

Meskipun pandemi COVID-19 hampir-hampir merusak pola interaksi sosial cara lama, namun saya tidak menemukan pola tatanan budaya baru – masih pada tingkat perilaku saja-- meski semakin maraknya interaksi sosial melalui komunikasi internet dan HP. Tanpa terjadinya pandemi COVID-19 orang tetap akan semakin banyak berinteraksi melalui internet dan HP karena ada keasyikan tersendiri di sana. Yang jelas jika COVID-19 ini masih cukup lama selesai, akan ada banyak orang mengidap “gangguan jiwa” di masa datang dengan berbagai tingkatan dan bentuknya. Ini bisa saja terjadi karena orang terpaksa atau dipaksa bertingkah laku “individualis” oleh keadaan.  

Berperilaku Individualis, Tidak Memuaskan

Anak saya lebih senang datang kesekolah bersama teman-temannya, katanya. Dia seperti rindu bermain dan bercanda dengan teman-temannya di sekolah. Sudah sangat jenuh mengerjakan tugas-tugas melulu melalui HP, internet, maupun Google Classroom. Mungkin juga orang mulai jenuh bekerja dari kost atau rumah (Work from Home). Saya menduga mungkin banyak hal terkait pekerjaan yang tidak segera bisa tuntas didiskusikan atau dibahas. Orang juga mungkin mulai merasa seperti orang “gila” duduk di cafe sendiri atau hanya berdua sambil menikmati kopi. Orang juga mulai jengah pergi ke mana-mana hanya sendirian atau paling-paling berdua, sementara biasanya bisa bersama teman-temannya lebih banyak. Orang-orang mungkin mulai “gila” tidak atau belum ada kesempatan berekreasi bersama naik gunung, camping, main bola, dll.

Berperilaku sendiri, melakukan apa-apa sendiri,  “katakanlah individualis” ternyata tidak memuaskan hasrat kemanusiawian. Budaya membantu seseorang untuk “menyeragamkan diri”. Orang membutuhkan conformitas[3]. Penyeragaman diri dan konformitas akan menumbuhkan kepatuhan, tentu saja juga hal-hal negatif lainnya. Hal-hal ini juga memicu munulnya “ketergugahan sosial”, untuk merespon fenomena-fenomena sosial yang dihadapi. Para psikolog sosial banyak meneliti tema-tema ini dan menemukan, bahwa hal-hal tadi membuat pekerjaan menjadi lebih ringan sebab dapat diatasi bersama. Persaingan positif akan tumbuh. Ide-ide akan tumbuh dengan cepat dan canggih diluar pemikiran kita.

Mungkin benar dititahkan dalam banyak kitab agama, bahwa hakekat manusia diciptakan adalah untuk saling berinteraksi (interaksi dalam makna lama), saling jabat tangan, saling berkunjung, berkumpul dengan teman-teman seiman, berkumpul dengan teman sejawat, beribadah bersama-sama, saling memberikan hadiah dan makanan, bahkan saling berdebat dan bertengkar. Mungkin ada dari sisi kemanusiawian kita masing-masing, yang tidak mungkin terpuaskan hanya berkomunikasi melalui internet dan HP. Itulah sebabnya mengapa setelah sekelompok orang atau group tertentu saling berkomunikasi, kemudian pasti ada ide untuk berkumpul bersama-sama: “copy-darat”.

Komunikasi antar personal menjadi “canggung” rasanya. Yang biasanya diikuti jabat tangan jika saling bertemu, bahkan berpelukan, kini tidak dilakukan kepada teman sekerja, teman dekat/sahabat. Mereka yang menjalankan anti penyebaran COVID-19 secara fanatik, bahkan berani dan tidak cangggung berkata “maaf kita tidak usah berjabat tangan”. Saling serah barang saja, sering kali tidak “tangan ke tangan”, tetapi diletakkan di suatu tempat. Ada keluarga yang terang-terangan menolak tamu yang ingin bertandang. Itu semua terjadi sampai tingkat orang-orang yang masih berhubungan “keluarga”, entah keluarga dekat atau keluarga jauh. Tentu dengan ungkapan ini semua saya tidak berarti tidak patuh dan “anti protokol kesehatan”. Saya hanya ingin mengungkapkan problema-problema sosial yang amat mungkin akan terjadi. Individualisasi, katakanlah begitu, memang sedang terjadi. Entah sampai berapa hal itu akan terjadi, karena tidak satupun para ahli yang mampu memprediksi kapan COVID-19 dinyatakan berakhir.

Memaknai Agama dan Spiritualitas Diri

Salah satu yang menarik perhatian saya dengan adanya pandemi COVID-19 ini adalah juga “perilaku beragama”[4]. Yang saya maksud dengan perilaku beragama ini adalah yang ringan-ringan saja, tidak untuk menelaah filsafat dan teologi agama. Tetapi saya hanya ingin mengungkap ritual ibadah, berjalannya agama sebagai institusi organisasi, juga konflik internal pribadi dalam beragama sampai pencarian bentuk-bentuk spiritualitas pribadi.

Gereja-gereja ditutup, ibadah Jum’at di masjid juga ditiadakan sementara, Hari Raya Idul Fitri yang lalu tidak diperbolehkan melakukan Sholad Id di lapangan yang biasanya dipenuhi umat yang sedang merayakan kegembiraan. Ritus Paskah yang dilakukan umat Katolik beberapa waktu lalu praktis juga berhenti. Semua dilaksanakan dengan live-streaming sebisa mungkin. Sekilas semua ibadah dan ritus itu seakan kehilangan “makna”. Di kampung-kampung sekitar seakan tidak ada bedanya antara Lebaran dan tidak Lebaran. Semua dirayakan sendiri-sendiri di rumah, tentu saja mungkin satu dua tetangga atau saudara ada yang datang bertandang.

Terkena virus COVID-19 seakan-akan adalah seorang “pendosa”. Mereka dijauhi, dikarantina, tidak boleh semaunya dijenguk kerabat atau tetangga, mengalami rasa takut jika anak, suami/istrinya tertulari, tidak boleh bekerja mencari nafkah, tidak bisa semaunya bersosialisasi dengan tetangga, dsb. Saya yakin mereka mengalami tekanan mental yang luar biasa. Mereka, pada jaman dulu, mirip dengan orang terkena “lepra”. Dikucilkan secara sosial, bahkan mendapat labeling pendosa”. Jangan sampai di masa datang, orang-orang ini di dalam KTP-nya tertandai “pernah terkena virus COVID-19”: itu seperti cap PKI !!!

Secara organisasi, institusi-institusi agama mungkin juga menglami kolaps. Gereja tidak ada pemasukan dari kolekte, sumbangan yang diberikan oleh umat pada ibadah di hari Minggu. Masjid-masjid mungkin juga mengalami penurunan pemasukan yang drastis oleh karena makin minimnya umat yang memberikan sumbangan/sedekah ketika ibadah Jum’at. Bisa jadi begitu pula yang dialami rumah ibadah Vihara atau tempat ibadah saudara kita yang Hindu. Semua sekarang tergantung pada sumbangan “dermawan”.

Mengapa semua ritus, ritual, dan perilaku institusi agama tadi sampi bisa seakan-akan kehilangan makna? Letak jawaban dasarnya adalah pada terganggunya “interaksi sosial” antar manusia sebagaimana sudah disinggung di atas. Manusia atau umat adalah kekuatan dasar kebersamaan. Dalam kasus agama Katolik atau Kristen, setiap umat tua atau muda, kaya maupun miskin, selalu berusaha menyisihkan uang semampunya untuk kolekte pada hari Minggu. Pada gereja yang cukup besar, perayaan ibadah Minggu ini bisa dilaksanakan minimal 3 atau 4 kali (Sabtu sore, Minggu pagi, dam Minggu Sore). Pembangunan masjid, gereja, atau tempat-tempat ibadat yang lain bisa dimintakan kepada umatnya, dengan diumumkan pada saat ibadat. Jika para umat itu tidak bisa atau tidak ada kesempatan bertemu, maka dari mana kekuatan-kekuatan kebersamaan  (ketergugahan sosial) bisa di bangun dan dipupuk. Bagaimana mereka bisa saling bertegur sapa, saling menguatkan atau mengingatkan, untuk beribadat lebih rajin. Pertemuan-pertemuan kelompok umat di dusun, desa, atau di wilayah masing-masing juga tidak bisa dilakukan atas nama anti penyebaran COVID-19.

Saya merasa tingkat keimanan dan perilaku beragama para umat beragama -- sejauh yang saya tahu, sayangnya belum pernah dilakukan penelitian soal ini – cukup “meluntur” dengan adanya pandemi COVID-19 ini. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa sebagian besar umat saat ini kemudian hidup dan bertingkahlaku “ngawur” tanpa tuntunan sebagaimana diajarkan di dalam dogma-dogma agama. Namun mungkin ada pertanyaan teologis yang menggelitik, bahwa tidak datang atau tidak perlu ke rumah-rumah ibadat itu ternyata tidak apa-apa. “Tidak berdosa” (tepatnya ingin dikatakan begitu). Apa bedanya COVID-19 dengan bencana-bencana lain yang skalanya cukup besar seperti bencana alam Tsunami, gunung meletus, gempa, wabah kelaparan, malaria dan demam berdarah, dsb. Semuanya ini menggelitik orang menggali spiritualitas baru, mulai bertanya dan mencari pemaknaan apa artinya beragama, “apakah ini akhirnya benar-benar hanya urusan individu dengan Tuhannya secara invidual?!”.

Dengan kata lain, saat ini manusia sedang diberi atau berada di dalam ruang dan kesempatan, dengan adanya pandemi COVID-19 dan ekses-eksesnya, untuk introspeksi dan refleksi diri. Manusia diberi kesempatan mempertanyakan sekaligus mungkin memperdalam makna sesungguhnya keimanannya serta hubungan dengan Tuhannya dalam konteks agama mereka masing-masing. Dengan kata lain manusia sedang memaknai kembali spiritualitas hubungan dengan Tuhannya. Siapa tahu hubungan kita dengan Tuhan kita, dalam konteks agama masing-masing, adalah hubungan yang amat sangat bersifat individu. Sementara hubungan kita dengan sahabat-sahabat kita seiman adalah hubungan instrumental karena berkehidupan agama juga memerlukan apa yang disebut “berorganisasi”. Agama memerlukan institusi organisasi juga interaksi sosial untuk mengatur berbagai macam hal. Berbagai hal itu seperti misalnya pembangunan atau mempercantik rumah ibadah, pengaturan para petinggi organisasi agama, pembuatan media cetak untuk kegiatan dakwah agama, biaya-biaya pelaksanaan perayaan-perayaan agama, dll. Itu sebabnya dibutuhkan penggalagan dana dengan berbagai bentuk dan caranya: infaq, kolekte, iuran tertentu, dsb.

Refleksi: Kalau COVID-19 Masih Berlanjut Lama

Berikut beberapa refleksi mendasar yang perlu dipertimbangkan jika pandemi COVID-19 masih akan berlanjut lama, antara lain:

 ·        Frustasi sosial dalam konteks orang akan tetap melakukan interaksi sosial seperti yang sudah-sudah atau berfokus pada model komunikasi internet dan HP sebagai alat interaksi sosial baru. Dalam hal ini orang akan cenderung memilih pola interaksi sosial lama, dan tidak peduli dengan ketakutan akan COVID-19. Ini karena interaksi sosial cara lama mampu memenuhi hampir semua hasrat kemanusiaan kita.

·        Namun interaksi sosial cara lama di atas tidak akan semarak atau seramai sebagaimana sebelumnya, karena ada sebagian orang yang dalam kukungan ketakutan atas pademi COVID-19. Namun sebagian sudah ada yang tidak peduli lagi tentang hal tersebut. Masyarakat kelompok miskin yang mendapatkan uang hanya bisa dilakukan dengan cara “bertemu” orang lain, akan cenderung tidak peduli dengan penyebaran virus COVID-19. Logika ini sangat bisa diterima karena bahaya atau bencana kelaparan, kurang gizi dan efek dampak kesehatan lainnya, kemiskinan keluarga, anak tidak bisa bersekolah, akan jauh lebih “mengerikan” dari pada pandemi COVID-19. Bahaya kemiskinan yang parah dan meluas dapat membawa kepada kekacauan lebih akut seperti penjarahan, perampokan, pencurian, penipuan, korupsi, manipulasi, bahkan pembunuhan, dll.

·        Budaya baru atau tatanan perilaku baru memang sangat sulit diprediksikan meskipun penelitian sosial dan budaya sudah banyak sekali dilakukan terhadap pandemi COVID-19. Oleh sebab itu pun akan sulit diduga perilaku kehidupan seperti apa yang akan muncul di masyarakat ke depan. Kita, semua pihak, masyarakat, akademisi, pengambil kebijakan, dll hanya bisa menunggu sambil waspada akan munculnya efek-efek positif maupun efek negatif, dan kemudian segera perlu bertindak untuk menciptakan tatanan-tatanan baru.

·        Pada tingkat yang sangat pribadi atau individu, sangat mungkin akan muncul pencarian diri tentang makna “beragama” (dengan frasa ini saya ingin menghindari istilah frustasi keberagamaan). Agama membutuhkan simbol, ritus, dan interaksi umat sebagai penguatan diri maupun kebersamaan antar umatnya. Jika misalnya saja, saya seorang Katolik, dan pandemi COVID-19 ini masih berkepanjangan entah sampai kapan. Apakah cukup saya berdoa saja dirumah bersama keluarga, tanpa ikut Misa minggu di gereja, tidak mendapatkan komuni, tidak bersapa dengan teman dan sahabat sehabis Misa, tidak ikut ritus perayaan Paskah bersama umat atau perayaan Natal, meskipun semuanya ada tersedia di live-streaming. Semoga umat tidak kehilangan rasa kebanggan dan makna sebagai umat yang memiliki agama.

 

^ ^ ^



[1] Hal 212, “Psikologi Sosial” (edisi 10 buku 1), David G. Myers. Salemba Humanika Tahun 2010.

[2] Dalam “Psikologi Sosial” (edisi 10 buku 1), David G. Myers. Salemba Humanika Tahun 2010.

[3] Semacam pengakuan diri di dalam kelompoknya, dan merupakan bagian dari penyeragaman diri

[4] Perilaku beragama merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri manusia dan mendorong orang tersebut untuk bertingkah laku yang berkaitan dengan agama (sumber: http://digilib.uinsby.ac.id/18876/5/Bab%202.pdf)

Friday, April 20, 2018

Short Story: "Women and Teak Tree"

Cerita Pendek:
"Perempuan dan Pohon Jati"

Oleh: Emil E. Elip



Sudah hampir sepuluh purnama ini dia selalu berlari mencari pohon-pohon jati yang diceritakan oleh kakek-nenek buyutnya ketika mereka masih hidup. Cerita itu begitu indah terdengar ditelinganya yang kecil, ketika dia masih kanak-kanak, sambil berbaring-baring dipangkuan neneknya atau ketika pergi digandeng kakeknya ke kebun. Dalam temaram lampu sentir dan suara jangkerik malam sehabis mahrib, atau ketika angin kebun bersemilir lembut sambil mencabuti ketela-ketela pohon di siang hari yang terik, cerita tentang jajaran pohon jati di kampungnya begitu mempesona.

Sunday, April 15, 2018

Who The Next After Jokowidodo

Masalah "Kepemimpinan" di Indonesia Di Masa Datang
[Pasca Kepemimpinan Joko Widodo)

oleh: Emil E. Elip

Indonesia sejak Januari 2018 lalu, mulai sibuk memperbincangkan Pemilihan Presiden Tahun 2019. Mengamati perbincangan dan perdebatan di media massa baik media cetak maupun televisi, saya teringat memang benar kata Gus Dur (Abdurahman Wahid), bahwa hiruk pikuk perpolitikan Indonesia mirip "dagang sapi". Mirip pasar bursa jual-beli barang. Ada yang menawar tinggi, ada yang menyangsikannya. Sebagian kelompok politik pasang muka cuek dan merasa jual mahal, sementara yang lain tidak mematok harga. Bahkan ada yang berkoar-koar perang harga, sampai-sampai tega menghujat negara sendiri, bahwa Indonesia akan "bubar" pada tahun 2030.

Terus terang saya "jijik" membaca berita-berita soal Pemilu Presiden ini di media masa, apalagi di televisi. Berita-beritanya bombastis, sungguh tidak mendidik, tidak elegan. Media televisi, tak terkecuali, jadi arena "dagang sapi" perpolitikan dan bursa calon presiden dan wakil presiden. Cara mereka men-setting diskusi di televisi sungguh hanya menjadi arena debat kusir yang tidak membawa nuansa baru pembangunan budaya politik di Indonesia. Para pengelola televisi terjebak, bahwa jika diskusinya menuju saling debat dan hujat, seakan-akan ratting acara menjadi naik dan bagus, padahal sama sekali tidak ada isinya dalam pembaharuan wacana analisis politik.

Sunday, April 8, 2018

Prune Customary Young Merirage in Lombok



Pohon Perkawinan:

“Memangkas Adat Perkawinan Usia Dini”

(Desa Dasan Tapen, Kec. Gerung, Lombok Barat)

Oleh: Emil E. Elip

Sejak Kepala Desa Tapen menerapkan kebijakan desa “Pohon Perkawinan” untuk setiap pasangan yang akan kawin pada tahun 2014, perkawinan usia dini didesa ini cenderung menurun dari tahun ke tahun. Tahun 2017 angka pasangan perkawinan usia dini adalah “zero”. Dampanya cukup meluas....

Desa Tapen
Desa Tapen tipikal desa dataran dengan dominasi areal pertanian sawah dan palawija. Letaknya kira-kira di pinggiran Kec. Gerung, dimana kecamatan ini merupakan Ibu Kota dari Kab. Lombok Barat. Luas Desa Tapen + 20,11 Km2, dengan jumlah KK sekitar 1.734 KK, total penduduknya sekitar 7.000 jiwa. Desa ini terdiri atas 7 dusun, sebagian besar penduduknya adalah muslim dengan mata pencaharian terbesar yaitu petani palawija.

Kantor Desa Dasan Tapen (Dok. Elip-GSC)