Selasa, 21 Maret 2017

Question on Man Ontological Existency



Question on Man Ontological Existency
Mempertanyakan Eksistensial Ontologis Manusia”

Oleh: Emil E. Elip



Paper ini mempersoalkan “jalan hidup” manusia. Istilah mempersoalkan sesungguhnya mau “menganalisa” secara relatif ilmiah tentang manusia yang berproses “mengada” dan menyejarah di dalam kehidupannya: keberadaannya di dunia (kelahiran), proses kehidupannya, dan kematiannya. Tentu saja obyek analisis ini semula bersifar “subyektif” tentang sejarah “mengada”-nya, dan yang kemudian hendak dianalisis secara logis-kritis-ilmiah dalam hal dunia ontologisnya.

Kehadiran Yang Tidak Demokratis

Pernah sesekali Anda menanyakan kepada diri Anda, atau katakanlah mempersoalkan diri Anda: “mengapa” Anda terlahir di dunia. Jawaban-jawaban yang muncul dari alam pemikiran “dogmatis agamis” adalah: karena Tuhan menciptakan “aku”. Jawaban yang lebih simpel-realis, namun bernuansa ilmiah biologis adalah: karena ada persetubuhan antara laki-laki dan perempuan, yang kemudian sering disebut “bapak” dan “ibu”. Jawaban realis-biologis ini sering dicap terlalu “sekuler”, oleh karena itu mereka yang dogmatis-agamis lantas menambahkan bahwa persetubuhan yang dimaksud adalah buah dari proses adanya institusi perkawinan tentu saja perkawinan yang disahkan oleh agama. Tentu ada banyak pula perkawinan tanpa restu agama, yang mungkin tepatnya disebut “persetubuhan perselingkuhan” itu, yang juga membuahkan lahirnya atau munculnya kehadiran manusia di dunia.

Mari kita menelaah lebih dalam dan kritis, bahwa semua jawaban-jawaban di atas sesungguhnya adalah jawaban tentang “bagaimana” (How) Anda bisa lahir, terlahir, atau muncul di dunia ini. Semua jawaban di atas bukanlah jawaban atas pertanyaan “mengapa” (Why). Jawaban mengenai “bagaimana” Anda lahir, adalah bukan jawaban tentang “ontologis eksistensial keberadaan” manusia di dunia. Jawaban mengenai “ontologis eksistensial” Anda (manusia) hanya bisa dipenuhi dengan menjawab “mengapa”. Dengan kata lain bahwa, jawaban atas “mengapa” bukanlah tentang bagaimana Anda “diproduksi”, tetapi jawaban atas “mengapa” bermaksud ingin menggali atau menelaah secara lebih mendalam tentang “beyond” (dibalik) Anda diproduksi.

Tidak ada jawaban “yang pasti” atas kelahiran seseorang manusia. Tidak ada hubungan “sebab-akibat” (kausalitas) sehingga mengapa manusia Anda di produksi atau dilahirkan didunia. Keberadaan kelahiran manusia seperti kondisi “terberi” yang tidak mampu dipertanyakan lagi sebab akibatnya. Oleh sebab itu maka keberadaan melalui kelahiran manusia adalah suatu kondisi “tidak demokratis” (undemocratic situation). Kelahiran manusia dengan demikian juga “tidak partsipatoris”. Diriku, dirimu, diri kita semua, secara ontologis adalah kondisi “tidak demokratis” serta “tidak partisipatoris”. Manusia dengan demikian “tidak punya” pilihan atas kelahiran-keberadaannya.

Proses keberadaan-kelahiran manusia dengan demikian boleh jadi adalah situasi yang “menyedihkan”. Ada sebagian dari Anda yang terlahir sebagai anak dari pasangan orang kaya. Ada sebagian terlahir dari pasangan kaum miskin dan gelandangan. Ada sebagian terlahir di pengungsian, peperangan, atau konflik. Ada yang terlahir dari pasangan yang kemudian pisah setelah Anda lahir. Ada sebagian dari Anda lahir di rumah sakit mewah, nyaman, sejuk. Ada sebagian dari Anda lahir di jalan, di rumah, atau digubuk-gubuk karena tidak mampu membayar di bidan atau rumah sakit.

Anda yang lahir dari orang kaya, di rumah sakit baik, ditangani oleh tenaga medis profesional, nyaman, mungkin akan mengatakan bahwa Anda “sangat beruntung”. Secara eksistensi-realitas kehadiran Anda yang beruntung itu memang nyata, dan begitulah orang kebanyakan akan mengatakan seperti itu. Tetapi secara “ontologis eksistensial” keberadaan Anda tetaplah “meyedihkan” sebab kita terberi dengan tanpa mampu “memilih”. Jadi sekali lagi, keberadaan-kelahiran manusia adalah “menyedihkan”.

Kehidupan Yang Tidak Adil

Situasi keberadaan-kelahiran manusia yang “menyedihkan” itulah yang menjadi sebab bahwa manusia pada awal periode kehidupannya sudah berada dalam “kondisi tidak adil”. Situasi ketidakadilan dan lebih jauh lagi situasi “ketidakpastian” itu menjadi semacam “dosa asal” bahwa dalam perjalanan hidup manusia di waktu-waktu berikutnya pun sesungguhnya terus saja berada di dalam sutuasi “ketidak adilan” dan “ketidakpastian”.

Puluhan anak-anak yang sedang bermain di sekolah Taman Kanak-Kanak, nampak gembira satu sama lain seakan-akan mereka tidak menyadari bahwa dibalik kehidupan sang anak-anak tersebut, berjalan sebuah ketidakadilan yang dimulai di dalam keluarga mereka masing-masing. Anak-anak tersebut tidak menyadari hal itu karena kapasitas reflektif mereka secara fisik-biologis memang tidak atau belum sampai kepada hal-hal tersebut. Namun kondisi yang dihadapi anak-anak tersebut tidak berarti bahwa ketidakadilan yang saya sebutkan tadi tidak hadir di dalam kehidupan mereka yang lebih komprehensif di dalam keluarga mereka. Sebagian dari mereka mungkin hanya anak sopir, atau anak pegawai rendahan, anak buruh, atau mungkin anak petani. Sebagian lain dari mereka mungkin anak pengusaha, anak direktur, bahkan anak bangsawan, dll. Perbedaan-perbedaan yang menjadi latar belakang kehidupan anak-anak itu, tetap akan terjadi dan terus terjadi, sampai pada suatu titik dimana anak-anak itu beranjak dewasa kemudian mereka menyadari bahwa masing-masing dari mereka berbeda satu sama lain secara “struktural”.

Sebagian dari anak-anak yang saya gambarkan tadi, mungkin ada yang putus tidak melanjutkan sekolah selepas SD, karena orang tuanya tidak mampu membayar ke jenjang pendidikan berikutnya. Sebagian anak-anak mungkin akan putus sekolah selepas SMP atau SMA, dan tidak sedikit yang harus bekerja membantu orang tua mereka untuk mencari penghasilan. Tetapi di sisi lain, tentu saja ada anak-anak yang tumbuh dewasa dengan proses menempuh jenjang pendidikan sampai tamat S-1, S-2, bahkan S-3 tanpa kesulitan sedikitpun dalam hal biaya sekolah dan fasilitas-fasilitas lain. Yang saya gambarkan tersebut adalah dua “jalur” realitas yang linier tentang anak-anak miskin dan kesulitan hidupnya, dan anak-anak orang kaya dan proses hidupnya.

Kondisi kemiskinan di satu sisi, dan kondisi gelimang kekayaan di sisi lain, di dua jalur kehidupan yang saya sebutkan tadi, tidak memiliki hubungan kausalitas satu sama lain. Kanak-kanak yang hidup dalam kemiskinan tidak diakibatkan karena ada kanak-kanak lain yang hidup dalam gelimang kekayaan. Begitu pula sebaliknya. Praktik-praktik hidup yang berbeda tadi hanyalah sebuah kebetulan, hanyalah akibat “kondisi terberi” yang tidak kita ketahui dari mana, oleh siapa, dan bagaimana bisa terjadi semacam itu.

Realitas kehidupan, yang memang sudah tidak adil ini, ternyata berjalan tidak linier seperti saya gambarkan di atas. Ada sebagian anak miskin yang kerena struggle dan survaival-nya mampu membiayai sendiri kehidupannya dengan bekerja apa saja di sektor informal, sehingga terus saja dapat bersekolah sampai jenjang tertinggi yang diharapkan. Namun di sisi lain, ada banyak anak-anak orang kaya yang karena bodoh tidak mampu melanjutkan pendidikan. Apa artinya semua ini! Artinya adalah bahwa kehidupan ini “tidak ada yang pasti”. Kehidupan ini sesungguhnya sulit ditentukan, teramat sulit diprediksi. Mengapa begitu?! Menurut pandangan saya, oleh karena di dalam kehidupan itu inherent terdapat realitas ontologis kondisi “ketidakpastian” dimana setiap individu tidak mampu menjawab.

Yang dulu kehidupannya kaya dan enak, bisa saja tetap kaya dan enak sampai mati. Tetapi sesunggunya orang tersebut jika di tanya apakah Anda sampai mati nanti akan tetap bisa hidup kaya dan enak? Orang tersebut pasti akan menjawab “tidak tahu, semoga saja begitu”. Yang kehidupannya berat dan miskin, bisa saja dia akan hidup melarat sampai ajalnya tiba. Tetapi jika ditanya akapah kira-kira Anda akan tetap miskin sampai Anda mati, maka jawabannya sebagian besar cenderung “mungkin saya akan mati dalam keadaan tetap melarat”. Tidak  ada yang mampu menjawab secara pasti. Sekali lagi hidup ini penuh ketidakpastian.

Yang dulunya kaya menjawab “tidak tahu”, tetapi dia sesungguhnya tetap ingin hidup kaya dan enak. Yang hidupnya miskin menjawab “mungkin tetap miskin”, tetapi dia jika dimungkinkan ingin hidup di masa tua menuju kematiannya dengan lebih nyaman, enak, alias agak kaya. Mengapa tidak mampun menjawab dengan pasti: “Saya pasti akan hidup kaya sampai saya mati, dan tidak mungkin akan jatuh miskin”. Sementara yang lain pun tidak mampun menjawab: “Saya pasti akan terus miskin sampai mati, dan tidak ada kata kaya”. Jadi di dalam diri manusia sendiri selalu ada kejiwaan laten, yaitu “kebimbangan dan ketidakpastian”.

Masih banyak sekali kasus kehidupan yang bisa digambarkan dan yang menunjukkan ketidakpastian hidup. Pada dasarnya manusia “tidak bisa memilih”. Manusia tidak mampu menentukan secara pasti, meski dia mampu “berharap” dan berusaha mewujudkan harapannya. Jadi sekali lagi, “beyond the human life there is an uncertain condition that couldn’t be explained”. Eksistensial ontologis kehidupan manusia adalah “ketidakadilan” dan “ketidakpastian”.


Mekanisme Pengalihan dan Realitas Semu

Kehebatan satu-satunya manusia adalah dia dilengkapi dengan kapasitas otak yang memadai dibanding binatang (meski dalam telaah-telaah ilmiah biologis manusia itu sendiri dikategorikan sebagai binatang/mamalia). Dengan kapasitas otak yang baik itu manusia mampu melakukan “refleksi”. Kemampuan refleksi ini menumbuhkan daya “memori” (mengingat-ingat). Dengan kumpulan memori-memori dan daya kemampuan refleksi itu, maka manusia bisa menggambarkan atau melukiskan “sejarah” (history). Sekali lagi, disinilah bedanya manusia dengan binatang. Binatang tidak mampu melakukan refleksi-sejarah dirinya.

Oleh karena manusia mampu “menyejarah” melalui memori-memori dan refleksinya, maka dia mencoba menumbuhkan “pilihan-pilihan” dalam laku kehidupan untuk esok hari, esok lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, dan seterusnya. Manusia mau membuat rencana untuk kehidupannya. Tidak hanya rencana tentang pilihan hidupnya, manusia juga mampu melakukan pilihan yang sifatnya sangat psikologis yaitu “bergembira” sebagai mekanisme pengalihan atau mengatasi frustasi. Mari selanjutnya kita bahas apakah “pilihan-pilihan” yang dibuat manusia itu sebuah “realitas” atau sesungguhnya “pra-realitas” yaitu sesuatu yang ingin saya sebut dengan pseudo-reality (realitas semu).

Sekali lagi saya tetap konsisten dengan pendapat bahwa realitas ontologis kehidupan manusia adalah “ketidakpastian dan ketidakadilan”. Sudah saya bahas di depan bahwa ketidakadilan ontologis itu yang menumbuhkan manusia “tidak punya pilihan”. Tidak ada modalitas manusia untuk mampu dan bisa “memilih”. Itu sebabnya meskipun manusia bisa membaca, mereinventarisir sejarahnya, merefleksikan sejarah hidupnya, dan yang kemudian dibuat “pilihan” ke depannya, semuanya itu adalah hanya “rencana” tentang kehidupan. Sekali lagi hanyalah rencana untuk menjalani kehidupan. Pilihan-pilihan kehidupan yang dimaksud tadi tidak lain hanya sekedar rencana tindakan kehidupan (gambaran kehidupan yang ingin dicapai) yang seperti apa dan bagaimana yang akan dilakukan ke depan. Jadi “pilihan-pilihan” itu sendiri bukanlah realitas.

Dalam konteks ketidakadilan ontologis hidup manusia, maka pilihan-pilihan hidup yang dibuat manusia dalam menjalani proses kehidupannya dengan demikian adalah sekedar “manipulasi”. Manipulasi yang dimaksud adalah sebuah tindakan atas kesadaran untuk mengubah kondisi ketidakadilan kehidupan manusia. Namun upaya “manipulasi” yang dilakukan oleh manusia tersebut tidak pernah akan mencapai kondisi sempurna. Dan oleh karena itu jalan hidup manusia akan selalu diwarnai atau penuh dengan “manipulasi”, yakni sebuah siasat untuk berupaya menahklukkan ketidakadilan ontologis kehiduapan yang tidak dimengerti jawabannya mengapa. 

 
   Mari kita tanya secara kritis terhadap rencana manipulatif manusia atas hidupnya seperti dipaparkan di atas. Seseorang mungkin telah membuat rencana kehidupannya secara matang bahkan kemungkinan dibuat semacam rencana A, rencana B, dan seterusnya, entah yang sifanta jangka pendek atau jangka panjang. Dan kemudian kita bertanya, apakah rencana hidupa Anda yang sudah Anda buat itu pasti akan berhasil, dan atau pasti akan membuat Anda hidup lebih kaya, lebih enak, dan membahagiakan Anda? Siapa yang akan mampu menjawab dengan pasti? Pasti jawabannya dimulai dengan statemen seperti: “Saya berharap begitu”/”Semoga saja”/”Jika Tuhan berkenan”/dan lain sebagainya.
Inilah mekanisme psikologis yang inherent di dalam diri manusia, siapa pun itu, yaitu bahwa dia tidak mampu menjawab pasti bahkan tentang rencana hidup yang sangat didambakannya. Kondisi psikologis ini tergambar pula dalam “pendapat” tentang hidup, “pandangan” tentang hidup, orientasi hidup yang selalu berubah untuk mensiasati hidup, dll. Jadi hidup yang kita rencanakan, diinginkan, diharapkan…adalah mekanisme manipulatif. 

Mekanisme manipulatif ini tidak ada hubungan kausalitas-konstruktif terhadap perubahan hidup yang diharapkan. Mekanisme manipulatif tersebut sesungguhnya hanya upaya meredam dan menekan “bibit potensi frustasi” di dalam diri manusia atas ketidakpastian kehidupan.
Tanpa mampu melakukan manipulasi, maka manusia akan sangat mudah terjerumus kepada “frustasi” serta ekses-ekses lain ikutannya seperti dendam, paranoid, egoisme berlebihan, hedonis, ekstrimism kehidupan, berpenyakitan, dan lain-lain.

Kemampuan Positif Manusia dan Ironi

Mari untuk sementara kita simpulkan point-point krusial sampai pada titik ini tentang manusia dan kehidupannya, yaitu: (1) Ketidakadilan ontologis kehidupan; (2) Tidak mempunyai pilihan; (3) Manipulasi proses hidup; dan (4) Frustasi. Dalam kondisi-kondisi semacam itu, maka sejarah proses kehidupan manusia yang sudah berabad-abad ini seharusnya sudah punah. Mengapa manusia tetap ada dan bahkan bertambah banyak? Dogma agamakah yang membuat manusia bertahan hidup dalam waktu berabad-abad dalam kondisi semacam itu? Ataukah bentuk-bentuk “imanensi-transendental” lain yang membuat manusia bertahan hidup? Ataukah juga karena kemampuan manusia melakukan “manipulasi” secara individual/pribadi maupun “manipulasi” secara berjamaah di dalam kelompoknya?

Tidak karena dogma agama dan bukan karena bentuk imanen-transendental yang membuat manusia tetap eksis dan hidup sampai sekarang. Kekuatannya adalah terletak di dalam manusia itu sendiri, yaitu psiko-mental (campuran antara kemampuan otak dan psikis) manusia. Seperti sudah sedikit dipaparkan sebelumnya, bahwa manusia mampu “menyejarah” serta merefleksikan jalan hidupnya, dan kemudian mampu merencana, menilai, dan merumuskan manipulasi-manipulasi. Dengan kemampuannya itu manusia dapat “membedakan” atau melakukan dikotomi mana tindakan-tindakan individual maupun kolektif yang membuat hidupnya lebih enak dan nyaman[1], serta mana tindakan-tindakan individual maupun kolektif yang membuat dirinya terancam dan hidup tidak enak/nyaman. Manusia dengan kemampuan psiko-mentalnya, juga akhirnya mampu menilai suatu tindakan kehidupan lebih enak dan nyaman dilakukan sendiri (individual) atau bersama-sama (kolektif). Maka benarlah jika akhirnya manusia itu adalah homo homini lupus.

Atas alasan kemampuan dan kapasitas-kapasitas terpapar di atas maka manusia mampu “mengorganisir diri”. Manusia dengan sadar mampu membedakan mana yang perlu dilakukan sendiri (individual) saja dan mana yang harus dilakukan bersama-sama dengan individu-individu lain. Kemampuan mengorganisir diri menumbuhkan kemampuan “berkonsolidasi”. Atas dasar hal ini lalu manusia dapat membahas bersama-sama aturan-aturan yang disepakati agar cara hidup mereka lebih enak dan nyaman. Tentu banyak hal dalam kehidupan manusia lantas bisa dikonsolidasikan antara satu sama lain, dan yang akhirnya menumbuhkan kehidupan berguyup/berwarga yang dalam bahasa ilmiah disebut civilization (bermasyarakat-berbudaya)[2]. Praktik-praktik bermasyarakat, bersosial, bernegara, berorganisasi-ekonomi, berorganisasi-petani, praktik-praktik hukum, larangan mencederai individu lain (melukai, mengancam, membunuh, dll) dan juga berdemokrasi adalah produk manusia sejak sebelum ada “agama”.

Sekali lagi kemampuan-kemampuan positif dalam manusia itulah yang menyebabkan manusia surfive dari abad ke abad. Manusia bertambah banyak. Koloni-koloni manusia bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dari satu benua ke benua lain. Sumberdaya alam daya dukung kehidupan semakin sedikit dan terasa terbatas karena manusia kian berjubel. Sumberdaya alam atau sumerdaya pendukung kehidupan manusia (livelihood) ini kemudian harus diatur, oleh manusia itu sendiri. Maka munculah kemudian teori-teori seperti common/public goods (sumberdaya publik), private goods (sumberdaya milik pribadi), dll.

Ketidak adilan dan ketidak-merataan dalam mengaturnya memunculkan kelompok orang miskin dan kelompok orang kaya. Negara miskin dan negara kaya. Lalu munculah kelompok manusia yang satu “memanipulasi” untuk menguasai yang lain. Lantas tumbuh perang dimana-mana. Tumbuh genocide, memusnahkan suatu negerasi atau bangsa. Muncul frustasi individu bahkan frustasi sosial. Dan kembali lagi, ketidakadilan ontologis kehidupan manusia tumbuh kembali atau selalu membayangi bahkan di era millenium ini. Inilah salah satu bukti bahwa “ketidakpastian kehidupan” manusia selalu berulang abad demi abad, seiring dengan perjalaa manusia itu sendiri si empunya “ketidakpastian” di dalam dirinya sendiri. Apa yang sudah dibangun berabad-abad oleh manusia dengan daya kemampuan psiko-mental-nya, toh akhirnya menjadi sejarah “manipulasi”.

Banyak manusia atau kelompok manusia mulai mencari atau melakukan reorientasi baru tentang makna hidup, atau dengan kata lain hendak mempertanyakan “siapakah aku”, “mau ke mana aku hidup”, “siapa sesungguhnya yang mengendalikan aku”, “bagaimana seharusnya aku bersikap kepada dia”, dll. Manusia kembali jatuh dalam “keresahan eksistensial”. Keresahan-keresahan semacam itu sesungguhnya mulai tumbuh sejak Abad Pertengahan. Ada kelompok-kelompok yang mencari jawaban atas keresahan eksistensial manusia itu dengan menjalani bentuk-bentuk hidup yang asktetik, atau dengan kata lain menjalankan laku baru mengenai hubungan antara manusia dengan sesuatu yang dipercaya lebih kuasa/besar dari pada manusia. Ada pula kelompok yang ingin mencari jawaban atas keresahan eksistensial itu dengan membangun filsafat baru tentang keberadaan manusia, sehingga muncul filsafat-filsafat pemikiran seperti eksistensialism, ateism, filsafat kebebasan manusia, dll. Siapa yang sesungguhnya ingin dicari oleh manusia? Jawabanya adalah tentang kepastian manusia mengenai siapa dirinya itu!

Tentang Agama dan Posisi Eksistensial Manusia

Pertama-tama yang ingin saya sampaikan sebelum membahas agama dan posisi eksistensial manusia adalah, bahwa munculnya agama adalah pada situasi dimana civilization manusia sudah mencapai pada kematangannya. Kemampuan psiko-mental manusia yang akhirnya menumbuhkan civilization dan budaya yang tinggi telah ada berabad-abad sebelum muncul dogma agama. Pada waktu munculnya agama besar itu di sekitar Timur Tengah (khususnya agama Katolik dan Islam) civilization dan budaya masyarakat Timur Tengah boleh dikata sudah mencapai masa keemasan.

Mari kita telisih satu per satu. Aturan ketatanegaraan sudah ada. Aturan kepemimpinan sudah ada, Aturan tatacara perkawinan, perceraian, bahkan hukum waris juga sudah ada. Aturan tata bisnis-ekonomi, perdagangan, jual-beli, sudah ada. Aturan tentang kriminalitas sudah ada. Bahkan ilmu pengetahuan juga sudah sangat maju seperti matematika, astronomi, ilmu kesehatan-kedokteran, konstruksi bangunan, kesenian, kesusastraan, dan filsafat manusia pada waktu itu juga sudah sangat tinggi baik dalam musik, tarian, puisi, dongeng, novel, catatan-catatan perjalanan para musafir, dan pengelana, ajaran-ajaran tentang kehidupan, dll.

Dengan semua tingkat filsafat, budaya, dan tata civilization yang sudah boleh disebut santa tinggi di abad Pertengahan itu, sudahkah manusia menemukan kebahagiaan dalam kepastian kehidupannya? Jawabannya adalah belum! Manusia masih terus berupaya mencari mempertanya siapa dia, dimana kehidupan yang sesungguhnya diinginkan, apakah yang disebut bahagia dan sejahtera? Manusia masih mau mencari eksistensinya di dalam pandangan atau katakanlah filsafat baru yang disebut “agama”. Maka tentang sesuatu yang disebut “agama”[3] ini lantas berbicara mengenai apa? Legenda barukah, filsafat manusia yang barukah, tentang kisah-kisah yang mengandung ajaran barukah? Atau apa?!

Saya ingin memulai penjelasan saya dengan apa yang sebelumnya sudah saya singgung dimuka, bahwa situasi sosial manusia pada periodisasi munculnya agama besar itu sudah banyak sekali muncul “frustasi ata kehidupan”. Jurang kemiskinan, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, penipuan, perbudakan, pembunuhan, keterlantaran hidup, keterancaman, dan segala macam lain sudah sangat marak pada jaman-jaman munculnya agama besar tersebut. Tentu di sisi lain ada juga manusia yang hidup di dalam istana indah, dengan dayang-dayang dan budak puluhan, punya banyak istri, memiliki perkebunan luas dan peternakan, serta harta emas, berlian melimpah.

Sudah saya gambarkan pula mulai banyak muncul individu, kelompok, atau golongan tertentu mencari reorientasi atas kehidupan eksistensial manusia. Manusia atau kelompok masyarakat tertentu pada waktu konteks agama besar itu muncul, sudah sangat mendambakan datangnya atau adanya orang atau pihak yang membawa “ajaran” baru tentang manusia dan sesamanya serta manusia dengan “sesuatu” yang lebih besar dari manusia yang kepadanya manusia bisa mempercayakan kehidupan lebih baik. Manusia mau mencari “keadilan” sebagai lawan atas ketidakadilan kehidupan. Manusia mau mencari “kepastian” sebagai lawan atas “ketidakpastian” kehidupan dimana dan kemana dia dapat bersandar dan memasrahkan perbaikan atas hidupnya.

Maka kemudian munculah “ajaran baru” menganai manusia dan hubungan dengan manusia lainnya, dan antara manusia dengan sesuatu yang lebih besar dari manusia dan yang kemudian disebut Allah, berikut dengan nabi-nabinya masing-masing. Sebagai sebuah “ajaran baru” (dan yang kemudian kita sebut dengan istilah “Agama”) yang nampaknya menjanjikan relasi antar manusia yang lebih demokratis, berdiri sama tinggi duduk sama rendah (ingat statement semua manusia sama dihadapan Allah), menawarkan ketenangan hidup jika diresapi, serta menawarkan perspektif baru tentang keadilan antar sesama, dan lain sebagainya. Maka para pengikut awal ajaran baru tersebut tentu adalah mereka yang “termarginalkan” dalam berbagai aspeknya di dalam masyarakatnya.

Pada waktu itu agama-agama baru ini bukanlah satu-satunya ajaran tentah manusia yang tumbuh di sekitar Timur Tengah. Ajaran-ajaran yang lain sudah tumbuh dan jauh lebih dulu dari agama-agama tersebut seperti misalnya praktik ajaran Yahudi, para rahib atau rabbi yang mengambil bentuk spiritualitas asketism tertentu dengan para pengikut ajarannya. Yang menarik adalah hampir semua kelompok ajaran kehidupan tersebut menyebut ketuanya atau para pembesar ajarannya dengan sebutan “rahib” atau “rabbi”, yang berarti “guru”. Para filsuf-filsuf besar sebelumnya yang tumbuh di Eropa yang juga mencetuskan tentang ajaran tatakelola manusia dan masyarakat seperti Socrates, Plato, Nicolo Marchiaveli, dll juga berperan dan berfungsi seagai “guru” dengan sebutan istilah masing-masing di masyarakatnya.

Ajaran-ajaran baru (yang kemudian kita sebut Agama) tersebut tentu bersifat rebellion (pemaharuan) karena kekuatannya menurut saya, adalah memulai dan memberikan jawaban terhadap “kaum miskin dan termarginal”-kan. Kaum miskin dan termarginalkan ini adalah para pengikut awal: Mengapa? Karena mereka langsung dapat menemukan sebuah harapan hidup baru yang menjanjikan keadilan antar sesama manusia. Jarang dan sangat-sangat sedikit orang-orang kaya, para bangsawan, saudagar, atau para tentara/militer kerajaan yang menjadi pengikut awal karena mereka bisa menemukan “kerugian” kalau bergabung dengan ajaran baru rebellion yang mewartakan hidup adil dengan sesama dan mengasihi sesama. Ajaran seperti kasihanilah sesamamu, sebagian harta kita adalah ada pada hak kaum miskin, berikan sedekah dari hartamu kepada fakir miskin maka kamu akan diselamatkan, dll. Ini adalah contoh kecil dari “ajaran-ajaran baru” yang sangat berbeda dengan “ajaran-ajaran lama” sebelumnya yang lebih berpihak kepada kaum elite. Tetu saja ajaran baru ini menjadi populer di kalangan kaum miskin, dengan membawa idiom “Cinta Kasih”.

Ajaran-ajaran lama, atau katakanlah ajaran yang lebih kuno, yang kata banyak orang disebut ajaran menyembah berhala, membawa idiom filsafat sacrify (pengorbanan). Ajarannya berbasis pada ancaman dan intimidasi. Semua manusia harus berkorban jika ingin mendapatkan rejeki, hidup enak, dan makmur. Yang tidak tunduk maka akan kena berhala atau tulah, bahkan dibunuh. Orang-orang miskin tentu merasa selalu dalam ancaman, sebab korban apa lagi yang sanggup dia berikan untuk “sang kuasa”. Harta tidak ada, kambing hanya satu atau dua itu saja untuk bertahan hidup, hasil ladang tidak ada sebab semua ladang milik raja dan para darah biru. Sang raja dan penguasa tertinggilah yang paling bisa memberika bingkisan korban terbanyak. Maka wajar jika dia merasa paling dekat dengan “sang paling kuasa”, saking dekatnya kadang dia menyatakan diri sebagai sepadan dengan sang paling kuasa itu. Dan oleh karena itu dia bisa bertitah semaunya. Si miskin tetap kehilangan kehidupannya.

Ajaran-ajaran baru (yang kemudian kita sebut Agama) itu, juga menawarkan konsepsi baru mengenai “ontologi imanensi” atau semacam teologi baru, yaitu “relasi” antara manusia dengan “sesuatu” yang lebih besar dari manusia (yang kemudian disebut dengan Allah). Sesuatu yang lebih besar dari manusia itu digambarkan “sangat agung” dan “sangat Ilahi”, yang menyebabkan segala sesuatu didunia ini menjadi ada termasuk manusia. Siapa dia, sesuatu yang lebih besar itu?

Para teolog penjaga agama pasti akan menjelaskan yang intinya adalah, bahwa “sesuatu” yang lebih besar dari manusia itu adalah Allah, yang sudah ada dengan sendirinya, sudah “terberi”. Dia berkuasa atas alam, manusia, dan kehidupan, yang kepadanya hidup ini diorientasikan dan dipasrahkan. Para pemikir sekuler, atau filsuf-filsuf eksistensialis, yang juga mempersoalkan relasi manusia dengan sesuatu yang lebih besar dari manusia (dan oleh karenanya saya tetap ingin menyebut para pemikir ini sebagai “teolog-kritis”), mengajukan argumen bahwa “sesuatu” yang lebih besar dari manusia yang dibayangkan serta disebut dengan sosok Allah itu terlalu abstrak.


Mengapa abstrak?

Oleh karena menyebut sosok Allah itu abstrak maka para “teolog-kritis” ini lantas disebut “ateism”, anti-Allah/anti-Tuhan, anti-teo-ism. Bagi saya itu tidak tepat, karena para teolog-kritis ini sesungguhnya masih tetap mendambakan dan mencari siapa sosok lebih besar dari manusia itu. Mereka hanya tidak setuju dengan “konsepsi” yang sudah ditawarkan dalam simbolisasi Allah seperti yang ditawarkan oleh “ajaran-ajaran baru” (Agama).

Mari sekarang kita membahas secara lebih kritis mengapa para “teolog-kritis” itu mengkritik atau tidak setuju dengan tawaran “relasi imamnensi-transendental” dalam simbolisasi Allah itu? Inti ketidaksetujuan itu adalah karena subyek  Allah yang ditawarkan (oleh ajaran baru yg disebut Agama) terlalu abstrak dan terlalu ambisius melekatkan atribut memiliki kekuasaan tidak terbatas atas manusia, alam, dan kehidupan. Subyek manusia digambarkan sangat lemah, tidak punya pilihan apa-apa, dan oleh karena itu manusia hanya diberi pilihan untuk “percaya saja kepada Allah”. Itu sebabnya mengapa kritik-subyektif Jean Paul Sartre, yang menurut pembacaan saya merupakan salah satu filsuf ateis, mengatakan jika manusia ingin eksis maka dia harus menguburkan “sosok Allah”.

Kamu Berdosa Sejak Dilahirkan

Ide dasar dari agama-agama dalam filosofi teologisnya adalah “kamu, manusia, sudah membawa dosa sejak dilahirkan”, dan oleh karena itu kalau mau atau ingin “selamat” (?) maka satu-satunya jalan hanyalah dengan percaya kepada Allah dan menjalankan perintahnya. Ide ini dimulai dari Adam dan Hawa yang terjerumus di dalam dosa karena memakan buang terlarang, begitu awal mula cerita dari Kitab Kejadian.

Adam dan Hawa dengan demikian merupakan tokoh sentral dalam kontrak dosa manusia sepanjang manusia masih terlair di dunia, yaitu “dosa asal”. Berbasis pada logika teologis tersebut maka agama kemudian membuat segala macam cerita ajarannya yang dalam keseluruhannya berorientasi pada “bahwa manusia adalah mahkluk berdosa”, yang sepanjang hidupnya harus meminta ampun kepada Allah sampai dia mati.

Kalau secara kritis kita bertanya, lantas dimana bukti bahwa agama yang dimana kita terus menerus meminta ampunan Allah maka kita akan diselamatkan? Secara tekstual di dalam kitab agama manapun tidak pernah dijelaskan bahwa seorang manusia mencapai “keselamatan” itu pada periode yang sama ketika dia masih hidup di dunia. Janji tentang keselamatan tersebut selalu diceritakan akan dicapai setelah manusia “mati”.  Maka sangat jelas bahwa teologi dosa asal dan keselamatan bagaikan teorisasi tentang suatu bangunan teologis. Yaitu suatu cara kerangka berpikir yang sengaja disusun agar manusia mengamini bahwa dosa asal itu ada, dan keselatan itu ada. Karena adanya dosa asal yang inherent pada manusia itu maka manusia membutuhkan “keselamatan”.  Dengan demikian, sesungguhnya dengan kata lain kita dapat mengatakan bahwa dosa asal dan keselamatan yang dijanjikan itu cuma bohong belaka. Dia bagaikan teori kausalita yang manipulatif.

Cerita tentang dosa asal dan keselatan itu tidak ubahnya semacam teori teologis tertentu. Dia sejajar dengan teori “Trias Politika” yang diajarkan Plato dan Socrates ratusan tahun sebelum munculnya agama-agama itu. Plato dan Sokrates pada intinya juga menjanjikan sebuah tatanan manusia dan masyarakat baru yang katakanlah lebih neradab, jika mereka mau menghargai orang lain, tidak korup, dibuat aturan yang transparan, dan hidup dalam nuansa demokratis. Ajaran-ajaran dasar Trias Politika pun kemudian berkembang sedemikian rupa sebagaimana upaya manusia menginginkan kehidupan yang lebih aman, damai, sejahtera.

Aturan-aturan sosial, hak-hak pribadi, kepemilikan pribadi, kalau mencuri dihukum, kalau memjbunuh dihukum, kalau korupsi diturunkan dari jabatan, dll merupakan keturunan dari teori Trias Politika. Masyarakat secara lebih luas juga harus diatur. Tata cara memilih pemimpin, tatacara mengatur negara, tatacara mengatur antara rakyat dan pemimpin agar adil, dsb.  

Lebih tua lagi dari Plato dan Socrates, teori-teori semacam itu sejajar dengan legenda-legenda teoris para dewa-dewa Yunani, yang juga mengajarkan tentang cara-cara manusia ingin mencapai hidup keselamatan, sejahtera karena kesuburan tanah, lepas dari penyakit dan kecelakaan.

Melalui teori “dosa asal dan keselamatan” itu, manusia, oleh agama, sesungguhnya ditempatkan pada sudut titik nadir paling tidak demokratis, paling kelam, paling tidak bermartabat. Berdasarkan teori dasar yang semacam ini, maka semua bangunan aturan di dalam agama sesungguhnya sudah tidak memihak kepada manusia. Jangan mencuri, kasihilah sesamamu, cintailah mereka yang lemah, hormati musuh-musuhmu, jangan menghujat Allah-mu dan bertobatlah…dan lain sebagainya, hanyalah turunan-turunan dari teori yang sudah menyudutkan manusia itu. Lebih dari itu statemen-statemen ajaran tadi sudah ada pada Plato dan Sokrates.

Kalau sungguh-sungguh dengan tepat dan benar kita melaksanakan “Trias Politika” seperti yang diinginkan Plato dan Sokrates, tidakkah kita sesungguhnya sudah melaksanakan lebih dari 75% ajaran-ajaran kebenaran yang dianjurkan oleh agama-agama. Kemana yang 25%? Yang 25% adalah praktik-praktik kepercayaan transendental-immnensi kepada “sesuatu yg lebih besar dari manusia”, yang seluruhnya abstrak dan absurd baik di dalam ajaran agama baru maupun bentuk-bentuk religiusitas-transendental yang lebih kuno.

Dari seluruh penjelasan di dalam bagian 1 di atas, maka ingin ditegaskan secara ringkas bahwa manusia memiliki eksistensi ontologis yang “tidak pasti”. Dari siapakah manusia menjadi ada, kepada siapa dia meminta tolong keluar dari kendala-kendala kehidupannya, bagaimana caranya, adakah sosok “mitra” yang terpercaya oleh manusia dalam mengatasi kehidupan-kehidupan yang dihadapinya, semuanya bernuansa “ketidakpastian”. Di dalam kondisi yang semacam itu maka manusia –dan tentu manusia sebagai kelompok-- itu sendiri menjadi objek yang  eksotis untuk diproblematisasikan oleh pemikir-pemikir menonjol dari jaman ke jaman. Sebut saja para pemikir itu seperti Homer, Socrates, Plato, para penulis Injil, maupun para pemikir dan penulis disekitar religiusitas baru yang disebut agama.

Semua para pemikir atau teolog, filosof atau disebut guru, rabbi dan semacamnya, sayangnya tidak satupun yang mampu mencapai taraf memberikan narasi jawaban yang “pasti” atas ontologi kehidupan manusia. Bahkan ajaran-ajaran dan atau pemikiran mereka disusun sedemikian rupa menempatkan manusia pada “eksistensi pinggiran”, eksistensi yang tidak humanis karena manusia dianggap berdosa sejak dia dilahirkan. Setiap aliran ajaran memiliki basis pengajaran yang berbeda satu sama lain. Mungkin saja mirip di satu sisi, tetapi berbeda di dalam praktik pelaksanaan ajarannya. Mengapa bisa begitu? Karena manusia “yang tidak pasti ini” mau menyusun ajaran-ajarannya sendiri untuk dirinya sendiri yang tidak pasti. Di dalam eksistensi ontologis ketidak pastian itu maka pihak-pihak yang mencoba melakukan klaim dirinyalah yang paling pasti, hanya akan menumbuhkan kepedihan baru dalam ketidak pastian. Perang antar kelompok ajaran itu yang terjadi sepanjang jaman, adalah buktinya!

Penutup: “Discover Yourself Devosion”

Sebagaimana ditawarkan Plato dan Socrates tentang kehidupan demokratis yang agung ratusan tahun silam, yang sampai sekarang tidak pernah suntuh dicapai oleh semua umat manusia-masyarakat-negara di muka bumi ini, hidup beragama pun dalam kelompok-kelompok masyarakat juga masih jauh dari hal yang disebut sempurna. Jangan-jangan hal ini menyangkut hal sebagaimana sudah saya paparkan sebelumnya, yang pada intinya bermuara kepada hal-hal yang amat ideal diinginkan manusia dalam berkehidupan melalui kapasitasnya mengeksplorasi dunia ontologis tatanan kehidupan.

Lantas apa yang harus kita lakukan, kepada apa saya dedikasikan devosi dalam diri saya ini, jika jika bahkan, dogma-dogma agamapun nampaknya teramat abstrak bagai tata surya yang tak berujung dan bertepi ini? Jawabannya adalah pada “diri kita sendiri”, kepada kehendak di dalam diri yang berupa inspirasi untuk bertindak dalam kehidupan yang kita percaya akan membimbing kita hidup lebih baik. Lebih baik dari hari kemarin!!

Manusia secara bilogis, di dalam dirinya telah tersedia gen-gen atau mungkin katakanlah hormon-hormon, yang memampukan dirinya “belajar” dari yang sudah dilakukan, menilai dampak dan resikonya, mempelajari ingatan-ingatan-sejarah, dan kemudian merencanakan. Jikau kau menyakiti orang lain, suatu saat akan terbalas disakiti. Jika kau mencuri milik orang lain, maka milik suatu saat akan diambil curi oleh orang lain bahkan mungkin oleh orang lain yang bukan barangnya kau curi. Kalu kau mengganggu istri/perempuan orang lain, maka perempuanmu suatu saat akan diganggu orang lain.

Terlahir sebagai mahkluk sosial, berkelompok, berelasi dengan individu lain, sudah dengan sendiri hukum seperti saya gambarkan tersebut terjadi. Aturan-aturan yang kemudian disusun bersama antar manusia, hanyalah sebuah artefak dokumen untuk mengingatkan karena bagaimanapun ingatan manusia adalah terbatas lintas waktu dan generasi. Kemampuan manusia yang “historis” membuat dirinya tergerak untuk mencatat (dalam papirus, kulit kayu, batu, atau kertas). Yang kemudian ternyata catatan-catatan itu bermanfaat untuk mensinkronkan, mereintepretasi ulang, dan menyusun dogma catatan baru yang terkontektulisasi dengan kondisi kekinian.

Jadi yang perlu kita lakukan adalah sebuah devosi (sesuatu rasa kepercayaan mendalam yang didesikan) untuk hidup lebih baik dari hari kemarin untuk hari berikutnya. Itu saja! Sebab jika kamu berbuat baik atas manusia lain, kita akan dikenang. Jika kita menolong anak miskin keluarga lain untuk disekolahkan atau dibawa ke dokter karena dia sakit, kamu akan dikenang bahkan mungkin juga akan ditolong oleh orang lain lagi jika nanti kamu bernasib sama dengan si miskin.

Tidak usah takut, bahwa memang nantinya semua kekayaan dan barang yang kita miliki, semua kebaikan yang sudah kita lakukan, akan hilang dan tinggal kenangan milik orang lain ketika kita mati. Begitula kejelekan yang kita lakukan pun lenyap ketika kita mati. Semua menjadi milik yang kita tinggalkan. Manusia diberi kemampuan mengenang (menyejarah melalui kenangan), dan karena itu kemudian mengkreasikan bayangan hidup sesudah mati agar yang hidup dan yang sudah mati masih memiliki hubungan kenangan. Ada banyak bukti hal ini diberbagai kebudayaan di belahan muka bumi manapun, bahkan di komunikas-komunitas yang tidak mempraktikkan apa yang sekarang disebut “agama”.

Semua tinggal kenangan, yang bahkan kenangan itu sudah tidak mampu bekerja lagi di dalam dirika yang sudah menjadi jasad. Kita semua sudah kambali, dari tiada kembali ke tiada, dari kosong kembali ke kosong, dari hampa kembali ke hampa... [666]


[1] Saya sengaja memakai istilah enak atau nyaman, dan bukan istilah “baik” atau “buruk”. Sebabnya adalah “enak/nyaman” lebih bersifat inherent pada kemampuan psiko-mental manusia. Saya lebih ingin menunjukkan eksistensi manusia. Sementara istilah “baik dan buruk” sengaja tidak dipakai untuk menghindari premis-prenis norma agama.
[2] Saya ingin jelaskan di sini bahwa sampai sebelum munculnya dogma-dogma agama seperti (Islam, Katolik, Kristen, Buda, Hindu, Tao, Konghucu, dll), manusia telah ber-civilization dan merumuskan berbagai dogma/aturan sosial agar hidup mereka terasa enak dan nyaman. Sangat mungkin bahwa dalam civilization awal itu mereka juga sudah mensepakati semacam dogma imanen-transendental (mempercayai ada sesuatu yang lebih kuat dari manusia). Dan sudah banyak bukti imliah-arkeologis bahwa civilization semacam itu, bahkan dengan kebudayaan yg amat sophisticated, terjadi di Mesir kuno, India kuno, di Inka, Romawi kuno, bahkan di wilayah-wilayah Celtic Eropa Barat.
[3] Jangan-jangan dia hanya tidak ubahnya seperti cara kerja para filsuf sebelumnya, yang dengan kemampuan otak yang sangat baik, melakukan analisis ulang, reintepretasi ulang, mengkontekstualisasikan dan memberikan nilai baru terhadap kondisi sosial yang ada, kemudian menulis ulang ajaran-ajaran baru tentang filsafat eksistensi manusia (baik dalam hubungan antar manusia maupun hubungan antara manusia dengan sesuatu yang lebih besar yang disebut “Allah”).