Question on Man Ontological Existency
“Mempertanyakan Eksistensial Ontologis Manusia”
Oleh:
Emil E. Elip
Paper ini mempersoalkan “jalan hidup” manusia.
Istilah mempersoalkan sesungguhnya mau “menganalisa” secara relatif ilmiah
tentang manusia yang berproses “mengada” dan menyejarah di dalam kehidupannya:
keberadaannya di dunia (kelahiran), proses kehidupannya, dan kematiannya. Tentu
saja obyek analisis ini semula bersifar “subyektif” tentang sejarah
“mengada”-nya, dan yang kemudian hendak dianalisis secara logis-kritis-ilmiah
dalam hal dunia ontologisnya.
Kehadiran
Yang Tidak Demokratis
Pernah
sesekali Anda menanyakan kepada diri Anda, atau katakanlah mempersoalkan diri
Anda: “mengapa” Anda terlahir di dunia. Jawaban-jawaban yang muncul dari alam
pemikiran “dogmatis agamis” adalah: karena Tuhan menciptakan “aku”. Jawaban
yang lebih simpel-realis, namun bernuansa ilmiah biologis adalah: karena ada
persetubuhan antara laki-laki dan perempuan, yang kemudian sering disebut
“bapak” dan “ibu”. Jawaban realis-biologis ini sering dicap terlalu “sekuler”,
oleh karena itu mereka yang dogmatis-agamis lantas menambahkan bahwa
persetubuhan yang dimaksud adalah buah dari proses adanya institusi perkawinan
tentu saja perkawinan yang disahkan oleh agama. Tentu ada banyak pula
perkawinan tanpa restu agama, yang mungkin tepatnya disebut “persetubuhan
perselingkuhan” itu, yang juga membuahkan lahirnya atau munculnya kehadiran
manusia di dunia.
Mari
kita menelaah lebih dalam dan kritis, bahwa semua jawaban-jawaban di atas
sesungguhnya adalah jawaban tentang “bagaimana” (How) Anda bisa lahir, terlahir, atau muncul di dunia ini. Semua
jawaban di atas bukanlah jawaban atas pertanyaan “mengapa” (Why). Jawaban mengenai “bagaimana” Anda
lahir, adalah bukan jawaban tentang “ontologis eksistensial keberadaan” manusia
di dunia. Jawaban mengenai “ontologis eksistensial” Anda (manusia) hanya bisa
dipenuhi dengan menjawab “mengapa”. Dengan kata lain bahwa, jawaban atas
“mengapa” bukanlah tentang bagaimana Anda “diproduksi”, tetapi jawaban atas
“mengapa” bermaksud ingin menggali atau menelaah secara lebih mendalam tentang
“beyond” (dibalik) Anda diproduksi.
Tidak
ada jawaban “yang pasti” atas kelahiran seseorang manusia. Tidak ada hubungan
“sebab-akibat” (kausalitas) sehingga mengapa manusia Anda di produksi atau
dilahirkan didunia. Keberadaan kelahiran manusia seperti kondisi “terberi” yang
tidak mampu dipertanyakan lagi sebab akibatnya. Oleh sebab itu maka keberadaan
melalui kelahiran manusia adalah suatu kondisi “tidak demokratis” (undemocratic situation). Kelahiran
manusia dengan demikian juga “tidak partsipatoris”. Diriku, dirimu, diri kita
semua, secara ontologis adalah kondisi “tidak demokratis” serta “tidak
partisipatoris”. Manusia dengan demikian “tidak punya” pilihan atas
kelahiran-keberadaannya.

Proses
keberadaan-kelahiran manusia dengan demikian boleh jadi adalah situasi yang
“menyedihkan”. Ada sebagian dari Anda yang terlahir sebagai anak dari pasangan
orang kaya. Ada sebagian terlahir dari pasangan kaum miskin dan gelandangan.
Ada sebagian terlahir di pengungsian, peperangan, atau konflik. Ada yang
terlahir dari pasangan yang kemudian pisah setelah Anda lahir. Ada sebagian
dari Anda lahir di rumah sakit mewah, nyaman, sejuk. Ada sebagian dari Anda
lahir di jalan, di rumah, atau digubuk-gubuk karena tidak mampu membayar di
bidan atau rumah sakit.
Anda
yang lahir dari orang kaya, di rumah sakit baik, ditangani oleh tenaga medis
profesional, nyaman, mungkin akan mengatakan bahwa Anda “sangat beruntung”. Secara
eksistensi-realitas kehadiran Anda yang beruntung itu memang nyata, dan
begitulah orang kebanyakan akan mengatakan seperti itu. Tetapi secara
“ontologis eksistensial” keberadaan Anda tetaplah “meyedihkan” sebab kita
terberi dengan tanpa mampu “memilih”. Jadi sekali lagi, keberadaan-kelahiran
manusia adalah “menyedihkan”.
Kehidupan
Yang Tidak Adil
Situasi
keberadaan-kelahiran manusia yang “menyedihkan” itulah yang menjadi sebab bahwa
manusia pada awal periode kehidupannya sudah berada dalam “kondisi tidak adil”.
Situasi ketidakadilan dan lebih jauh lagi situasi “ketidakpastian” itu menjadi
semacam “dosa asal” bahwa dalam perjalanan hidup manusia di waktu-waktu
berikutnya pun sesungguhnya terus saja berada di dalam sutuasi “ketidak adilan”
dan “ketidakpastian”.
Puluhan
anak-anak yang sedang bermain di sekolah Taman Kanak-Kanak, nampak gembira satu
sama lain seakan-akan mereka tidak menyadari bahwa dibalik kehidupan sang
anak-anak tersebut, berjalan sebuah ketidakadilan yang dimulai di dalam
keluarga mereka masing-masing. Anak-anak tersebut tidak menyadari hal itu
karena kapasitas reflektif mereka secara fisik-biologis memang tidak atau belum
sampai kepada hal-hal tersebut. Namun kondisi yang dihadapi anak-anak tersebut
tidak berarti bahwa ketidakadilan yang saya sebutkan tadi tidak hadir di dalam
kehidupan mereka yang lebih komprehensif di dalam keluarga mereka. Sebagian
dari mereka mungkin hanya anak sopir, atau anak pegawai rendahan, anak buruh,
atau mungkin anak petani. Sebagian lain dari mereka mungkin anak pengusaha,
anak direktur, bahkan anak bangsawan, dll. Perbedaan-perbedaan yang menjadi
latar belakang kehidupan anak-anak itu, tetap akan terjadi dan terus terjadi,
sampai pada suatu titik dimana anak-anak itu beranjak dewasa kemudian mereka
menyadari bahwa masing-masing dari mereka berbeda satu sama lain secara
“struktural”.
Sebagian
dari anak-anak yang saya gambarkan tadi, mungkin ada yang putus tidak
melanjutkan sekolah selepas SD, karena orang tuanya tidak mampu membayar ke
jenjang pendidikan berikutnya. Sebagian anak-anak mungkin akan putus sekolah
selepas SMP atau SMA, dan tidak sedikit yang harus bekerja membantu orang tua
mereka untuk mencari penghasilan. Tetapi di sisi lain, tentu saja ada anak-anak
yang tumbuh dewasa dengan proses menempuh jenjang pendidikan sampai tamat S-1,
S-2, bahkan S-3 tanpa kesulitan sedikitpun dalam hal biaya sekolah dan
fasilitas-fasilitas lain. Yang saya gambarkan tersebut adalah dua “jalur”
realitas yang linier tentang anak-anak miskin dan kesulitan hidupnya, dan
anak-anak orang kaya dan proses hidupnya.
Kondisi
kemiskinan di satu sisi, dan kondisi gelimang kekayaan di sisi lain, di dua
jalur kehidupan yang saya sebutkan tadi, tidak memiliki hubungan kausalitas
satu sama lain. Kanak-kanak yang hidup dalam kemiskinan tidak diakibatkan
karena ada kanak-kanak lain yang hidup dalam gelimang kekayaan. Begitu pula
sebaliknya. Praktik-praktik hidup yang berbeda tadi hanyalah sebuah kebetulan,
hanyalah akibat “kondisi terberi” yang tidak kita ketahui dari mana, oleh
siapa, dan bagaimana bisa terjadi semacam itu.
Realitas
kehidupan, yang memang sudah tidak adil ini, ternyata berjalan tidak linier
seperti saya gambarkan di atas. Ada sebagian anak miskin yang kerena struggle dan survaival-nya mampu membiayai sendiri kehidupannya dengan bekerja
apa saja di sektor informal, sehingga terus saja dapat bersekolah sampai
jenjang tertinggi yang diharapkan. Namun di sisi lain, ada banyak anak-anak
orang kaya yang karena bodoh tidak mampu melanjutkan pendidikan. Apa artinya
semua ini! Artinya adalah bahwa kehidupan ini “tidak ada yang pasti”. Kehidupan
ini sesungguhnya sulit ditentukan, teramat sulit diprediksi. Mengapa begitu?!
Menurut pandangan saya, oleh karena di dalam kehidupan itu inherent terdapat realitas ontologis kondisi “ketidakpastian”
dimana setiap individu tidak mampu menjawab.
Yang
dulu kehidupannya kaya dan enak, bisa saja tetap kaya dan enak sampai mati.
Tetapi sesunggunya orang tersebut jika di tanya apakah Anda sampai mati nanti
akan tetap bisa hidup kaya dan enak? Orang tersebut pasti akan menjawab “tidak
tahu, semoga saja begitu”. Yang kehidupannya berat dan miskin, bisa saja dia
akan hidup melarat sampai ajalnya tiba. Tetapi jika ditanya akapah kira-kira
Anda akan tetap miskin sampai Anda mati, maka jawabannya sebagian besar
cenderung “mungkin saya akan mati dalam keadaan tetap melarat”. Tidak ada yang mampu menjawab secara pasti. Sekali
lagi hidup ini penuh ketidakpastian.
Yang
dulunya kaya menjawab “tidak tahu”, tetapi dia sesungguhnya tetap ingin hidup
kaya dan enak. Yang hidupnya miskin menjawab “mungkin tetap miskin”, tetapi dia
jika dimungkinkan ingin hidup di masa tua menuju kematiannya dengan lebih
nyaman, enak, alias agak kaya. Mengapa tidak mampun menjawab dengan pasti:
“Saya pasti akan hidup kaya sampai saya mati, dan tidak mungkin akan jatuh
miskin”. Sementara yang lain pun tidak mampun menjawab: “Saya pasti akan terus
miskin sampai mati, dan tidak ada kata kaya”. Jadi di dalam diri manusia
sendiri selalu ada kejiwaan laten, yaitu “kebimbangan dan ketidakpastian”.
Masih
banyak sekali kasus kehidupan yang bisa digambarkan dan yang menunjukkan
ketidakpastian hidup. Pada dasarnya manusia “tidak bisa memilih”. Manusia tidak
mampu menentukan secara pasti, meski dia mampu “berharap” dan berusaha
mewujudkan harapannya. Jadi sekali lagi, “beyond
the human life there is an uncertain condition that couldn’t be explained”.
Eksistensial ontologis kehidupan manusia adalah “ketidakadilan” dan
“ketidakpastian”.
Mekanisme
Pengalihan dan Realitas Semu
Kehebatan
satu-satunya manusia adalah dia dilengkapi dengan kapasitas otak yang memadai
dibanding binatang (meski dalam telaah-telaah ilmiah biologis manusia itu
sendiri dikategorikan sebagai binatang/mamalia).
Dengan kapasitas otak yang baik itu manusia mampu melakukan “refleksi”.
Kemampuan refleksi ini menumbuhkan daya “memori” (mengingat-ingat). Dengan
kumpulan memori-memori dan daya kemampuan refleksi itu, maka manusia bisa
menggambarkan atau melukiskan “sejarah” (history).
Sekali lagi, disinilah bedanya manusia dengan binatang. Binatang tidak mampu
melakukan refleksi-sejarah dirinya.
Oleh
karena manusia mampu “menyejarah” melalui memori-memori dan refleksinya, maka
dia mencoba menumbuhkan “pilihan-pilihan” dalam laku kehidupan untuk esok hari,
esok lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, dan seterusnya. Manusia mau
membuat rencana untuk kehidupannya. Tidak hanya rencana tentang pilihan hidupnya,
manusia juga mampu melakukan pilihan yang sifatnya sangat psikologis yaitu
“bergembira” sebagai mekanisme pengalihan atau mengatasi frustasi. Mari
selanjutnya kita bahas apakah “pilihan-pilihan” yang dibuat manusia itu sebuah
“realitas” atau sesungguhnya “pra-realitas” yaitu sesuatu yang ingin saya sebut
dengan pseudo-reality (realitas
semu).
Sekali
lagi saya tetap konsisten dengan pendapat bahwa realitas ontologis kehidupan
manusia adalah “ketidakpastian dan ketidakadilan”. Sudah saya bahas di depan
bahwa ketidakadilan ontologis itu yang menumbuhkan manusia “tidak punya
pilihan”. Tidak ada modalitas manusia untuk mampu dan bisa “memilih”. Itu
sebabnya meskipun manusia bisa membaca, mereinventarisir sejarahnya,
merefleksikan sejarah hidupnya, dan yang kemudian dibuat “pilihan” ke depannya,
semuanya itu adalah hanya “rencana” tentang kehidupan. Sekali lagi hanyalah rencana
untuk menjalani kehidupan. Pilihan-pilihan kehidupan yang dimaksud tadi tidak
lain hanya sekedar rencana tindakan kehidupan (gambaran kehidupan yang ingin
dicapai) yang seperti apa dan bagaimana yang akan dilakukan ke depan. Jadi “pilihan-pilihan”
itu sendiri bukanlah realitas.
Dalam
konteks ketidakadilan ontologis hidup manusia, maka pilihan-pilihan hidup yang
dibuat manusia dalam menjalani proses kehidupannya dengan demikian adalah sekedar
“manipulasi”. Manipulasi yang dimaksud adalah sebuah tindakan atas kesadaran
untuk mengubah kondisi ketidakadilan kehidupan manusia. Namun upaya
“manipulasi” yang dilakukan oleh manusia tersebut tidak pernah akan mencapai
kondisi sempurna. Dan oleh karena itu jalan hidup manusia akan selalu diwarnai
atau penuh dengan “manipulasi”, yakni sebuah siasat untuk berupaya menahklukkan
ketidakadilan ontologis kehiduapan yang tidak dimengerti jawabannya mengapa.

Mari
kita tanya secara kritis terhadap rencana manipulatif manusia atas hidupnya
seperti dipaparkan di atas. Seseorang mungkin telah membuat rencana
kehidupannya secara matang bahkan kemungkinan dibuat semacam rencana A, rencana
B, dan seterusnya, entah yang sifanta jangka pendek atau jangka panjang. Dan
kemudian kita bertanya, apakah rencana hidupa Anda yang sudah Anda buat itu
pasti akan berhasil, dan atau pasti akan membuat Anda hidup lebih kaya, lebih
enak, dan membahagiakan Anda? Siapa yang akan mampu menjawab dengan pasti?
Pasti jawabannya dimulai dengan statemen seperti: “Saya berharap
begitu”/”Semoga saja”/”Jika Tuhan berkenan”/dan lain sebagainya.
Inilah
mekanisme psikologis yang inherent di
dalam diri manusia, siapa pun itu, yaitu bahwa dia tidak mampu menjawab pasti
bahkan tentang rencana hidup yang sangat didambakannya. Kondisi psikologis ini
tergambar pula dalam “pendapat” tentang hidup, “pandangan” tentang hidup,
orientasi hidup yang selalu berubah untuk mensiasati hidup, dll. Jadi hidup
yang kita rencanakan, diinginkan, diharapkan…adalah mekanisme manipulatif.
Mekanisme manipulatif ini tidak ada hubungan kausalitas-konstruktif terhadap perubahan hidup yang diharapkan. Mekanisme manipulatif tersebut sesungguhnya hanya upaya meredam dan menekan “bibit potensi frustasi” di dalam diri manusia atas ketidakpastian kehidupan.
Tanpa mampu melakukan manipulasi, maka manusia akan sangat mudah terjerumus kepada “frustasi” serta ekses-ekses lain ikutannya seperti dendam, paranoid, egoisme berlebihan, hedonis, ekstrimism kehidupan, berpenyakitan, dan lain-lain.
Mekanisme manipulatif ini tidak ada hubungan kausalitas-konstruktif terhadap perubahan hidup yang diharapkan. Mekanisme manipulatif tersebut sesungguhnya hanya upaya meredam dan menekan “bibit potensi frustasi” di dalam diri manusia atas ketidakpastian kehidupan.
Tanpa mampu melakukan manipulasi, maka manusia akan sangat mudah terjerumus kepada “frustasi” serta ekses-ekses lain ikutannya seperti dendam, paranoid, egoisme berlebihan, hedonis, ekstrimism kehidupan, berpenyakitan, dan lain-lain.
Kemampuan
Positif Manusia dan Ironi
Mari
untuk sementara kita simpulkan point-point krusial sampai pada titik ini
tentang manusia dan kehidupannya, yaitu: (1) Ketidakadilan ontologis kehidupan;
(2) Tidak mempunyai pilihan; (3) Manipulasi proses hidup; dan (4) Frustasi.
Dalam kondisi-kondisi semacam itu, maka sejarah proses kehidupan manusia yang
sudah berabad-abad ini seharusnya sudah punah. Mengapa manusia tetap ada dan
bahkan bertambah banyak? Dogma agamakah yang membuat manusia bertahan hidup
dalam waktu berabad-abad dalam kondisi semacam itu? Ataukah bentuk-bentuk “imanensi-transendental”
lain yang membuat manusia bertahan hidup? Ataukah juga karena kemampuan manusia
melakukan “manipulasi” secara individual/pribadi maupun “manipulasi” secara
berjamaah di dalam kelompoknya?
Tidak
karena dogma agama dan bukan karena bentuk imanen-transendental yang membuat
manusia tetap eksis dan hidup sampai sekarang. Kekuatannya adalah terletak di
dalam manusia itu sendiri, yaitu psiko-mental (campuran antara kemampuan otak
dan psikis) manusia. Seperti sudah sedikit dipaparkan sebelumnya, bahwa manusia
mampu “menyejarah” serta merefleksikan jalan hidupnya, dan kemudian mampu
merencana, menilai, dan merumuskan manipulasi-manipulasi. Dengan kemampuannya
itu manusia dapat “membedakan” atau melakukan dikotomi mana tindakan-tindakan
individual maupun kolektif yang membuat hidupnya lebih enak dan nyaman[1],
serta mana tindakan-tindakan individual maupun kolektif yang membuat dirinya
terancam dan hidup tidak enak/nyaman. Manusia dengan kemampuan psiko-mentalnya,
juga akhirnya mampu menilai suatu tindakan kehidupan lebih enak dan nyaman
dilakukan sendiri (individual) atau bersama-sama (kolektif). Maka benarlah jika
akhirnya manusia itu adalah homo homini
lupus.
Atas
alasan kemampuan dan kapasitas-kapasitas terpapar di atas maka manusia mampu
“mengorganisir diri”. Manusia dengan sadar mampu membedakan mana yang perlu
dilakukan sendiri (individual) saja dan mana yang harus dilakukan bersama-sama
dengan individu-individu lain. Kemampuan mengorganisir diri menumbuhkan kemampuan
“berkonsolidasi”. Atas dasar hal ini lalu manusia dapat membahas bersama-sama
aturan-aturan yang disepakati agar cara hidup mereka lebih enak dan nyaman.
Tentu banyak hal dalam kehidupan manusia lantas bisa dikonsolidasikan antara
satu sama lain, dan yang akhirnya menumbuhkan kehidupan berguyup/berwarga yang
dalam bahasa ilmiah disebut civilization
(bermasyarakat-berbudaya)[2].
Praktik-praktik bermasyarakat, bersosial, bernegara, berorganisasi-ekonomi,
berorganisasi-petani, praktik-praktik hukum, larangan mencederai individu lain
(melukai, mengancam, membunuh, dll) dan juga berdemokrasi adalah produk manusia
sejak sebelum ada “agama”.
Sekali
lagi kemampuan-kemampuan positif dalam manusia itulah yang menyebabkan manusia surfive dari abad ke abad. Manusia
bertambah banyak. Koloni-koloni manusia bergerak dari satu tempat ke tempat
lain, dari satu benua ke benua lain. Sumberdaya alam daya dukung kehidupan
semakin sedikit dan terasa terbatas karena manusia kian berjubel. Sumberdaya alam
atau sumerdaya pendukung kehidupan manusia (livelihood)
ini kemudian harus diatur, oleh manusia itu sendiri. Maka munculah kemudian
teori-teori seperti common/public goods
(sumberdaya publik), private goods
(sumberdaya milik pribadi), dll.
Ketidak
adilan dan ketidak-merataan dalam mengaturnya memunculkan kelompok orang miskin
dan kelompok orang kaya. Negara miskin dan negara kaya. Lalu munculah kelompok
manusia yang satu “memanipulasi” untuk menguasai yang lain. Lantas tumbuh
perang dimana-mana. Tumbuh genocide,
memusnahkan suatu negerasi atau bangsa. Muncul frustasi individu bahkan
frustasi sosial. Dan kembali lagi, ketidakadilan ontologis kehidupan manusia tumbuh
kembali atau selalu membayangi bahkan di era millenium ini. Inilah salah satu
bukti bahwa “ketidakpastian kehidupan” manusia selalu berulang abad demi abad,
seiring dengan perjalaa manusia itu sendiri si empunya “ketidakpastian” di
dalam dirinya sendiri. Apa yang sudah dibangun berabad-abad oleh manusia dengan
daya kemampuan psiko-mental-nya, toh akhirnya menjadi sejarah “manipulasi”.
Banyak
manusia atau kelompok manusia mulai mencari atau melakukan reorientasi baru
tentang makna hidup, atau dengan kata lain hendak mempertanyakan “siapakah
aku”, “mau ke mana aku hidup”, “siapa sesungguhnya yang mengendalikan aku”,
“bagaimana seharusnya aku bersikap kepada dia”, dll. Manusia kembali jatuh
dalam “keresahan eksistensial”. Keresahan-keresahan semacam itu sesungguhnya
mulai tumbuh sejak Abad Pertengahan. Ada kelompok-kelompok yang mencari jawaban
atas keresahan eksistensial manusia itu dengan menjalani bentuk-bentuk hidup
yang asktetik, atau dengan kata lain menjalankan laku baru mengenai hubungan
antara manusia dengan sesuatu yang dipercaya lebih kuasa/besar dari pada
manusia. Ada pula kelompok yang ingin mencari jawaban atas keresahan
eksistensial itu dengan membangun filsafat baru tentang keberadaan manusia,
sehingga muncul filsafat-filsafat pemikiran seperti eksistensialism, ateism,
filsafat kebebasan manusia, dll. Siapa yang sesungguhnya ingin dicari oleh
manusia? Jawabanya adalah tentang kepastian manusia mengenai siapa dirinya itu!
Tentang
Agama dan Posisi Eksistensial Manusia
Pertama-tama
yang ingin saya sampaikan sebelum membahas agama dan posisi eksistensial
manusia adalah, bahwa munculnya agama adalah pada situasi dimana civilization manusia sudah mencapai pada
kematangannya. Kemampuan psiko-mental manusia yang akhirnya menumbuhkan civilization dan budaya yang tinggi
telah ada berabad-abad sebelum muncul dogma agama. Pada waktu munculnya agama
besar itu di sekitar Timur Tengah (khususnya agama Katolik dan Islam) civilization dan budaya masyarakat Timur
Tengah boleh dikata sudah mencapai masa keemasan.
Mari
kita telisih satu per satu. Aturan ketatanegaraan sudah ada. Aturan
kepemimpinan sudah ada, Aturan tatacara perkawinan, perceraian, bahkan hukum
waris juga sudah ada. Aturan tata bisnis-ekonomi, perdagangan, jual-beli, sudah
ada. Aturan tentang kriminalitas sudah ada. Bahkan ilmu pengetahuan juga sudah
sangat maju seperti matematika, astronomi, ilmu kesehatan-kedokteran, konstruksi
bangunan, kesenian, kesusastraan, dan filsafat manusia pada waktu itu juga
sudah sangat tinggi baik dalam musik, tarian, puisi, dongeng, novel,
catatan-catatan perjalanan para musafir, dan pengelana, ajaran-ajaran tentang
kehidupan, dll.
Dengan
semua tingkat filsafat, budaya, dan tata civilization
yang sudah boleh disebut santa tinggi di abad Pertengahan itu, sudahkah
manusia menemukan kebahagiaan dalam kepastian kehidupannya? Jawabannya adalah
belum! Manusia masih terus berupaya mencari mempertanya siapa dia, dimana
kehidupan yang sesungguhnya diinginkan, apakah yang disebut bahagia dan
sejahtera? Manusia masih mau mencari eksistensinya di dalam pandangan atau
katakanlah filsafat baru yang disebut “agama”. Maka tentang sesuatu yang
disebut “agama”[3]
ini lantas berbicara mengenai apa? Legenda barukah, filsafat manusia yang
barukah, tentang kisah-kisah yang mengandung ajaran barukah? Atau apa?!
Saya
ingin memulai penjelasan saya dengan apa yang sebelumnya sudah saya singgung
dimuka, bahwa situasi sosial manusia pada periodisasi munculnya agama besar itu
sudah banyak sekali muncul “frustasi ata kehidupan”. Jurang kemiskinan,
ketidakadilan, kesewenang-wenangan, penipuan, perbudakan, pembunuhan,
keterlantaran hidup, keterancaman, dan segala macam lain sudah sangat marak
pada jaman-jaman munculnya agama besar tersebut. Tentu di sisi lain ada juga
manusia yang hidup di dalam istana indah, dengan dayang-dayang dan budak
puluhan, punya banyak istri, memiliki perkebunan luas dan peternakan, serta
harta emas, berlian melimpah.
Sudah
saya gambarkan pula mulai banyak muncul individu, kelompok, atau golongan
tertentu mencari reorientasi atas kehidupan eksistensial manusia. Manusia atau
kelompok masyarakat tertentu pada waktu konteks agama besar itu muncul, sudah
sangat mendambakan datangnya atau adanya orang atau pihak yang membawa “ajaran”
baru tentang manusia dan sesamanya serta manusia dengan “sesuatu” yang lebih
besar dari manusia yang kepadanya manusia bisa mempercayakan kehidupan lebih
baik. Manusia mau mencari “keadilan” sebagai lawan atas ketidakadilan kehidupan.
Manusia mau mencari “kepastian” sebagai lawan atas “ketidakpastian” kehidupan
dimana dan kemana dia dapat bersandar dan memasrahkan perbaikan atas hidupnya.
Maka
kemudian munculah “ajaran baru” menganai manusia dan hubungan dengan manusia lainnya,
dan antara manusia dengan sesuatu yang lebih besar dari manusia dan yang
kemudian disebut Allah, berikut dengan nabi-nabinya masing-masing. Sebagai
sebuah “ajaran baru” (dan yang kemudian kita sebut dengan istilah “Agama”) yang
nampaknya menjanjikan relasi antar manusia yang lebih demokratis, berdiri sama
tinggi duduk sama rendah (ingat statement semua
manusia sama dihadapan Allah), menawarkan ketenangan hidup jika diresapi, serta
menawarkan perspektif baru tentang keadilan antar sesama, dan lain sebagainya. Maka
para pengikut awal ajaran baru tersebut tentu adalah mereka yang
“termarginalkan” dalam berbagai aspeknya di dalam masyarakatnya.
Pada
waktu itu agama-agama baru ini bukanlah satu-satunya ajaran tentah manusia yang
tumbuh di sekitar Timur Tengah. Ajaran-ajaran yang lain sudah tumbuh dan jauh
lebih dulu dari agama-agama tersebut seperti misalnya praktik ajaran Yahudi,
para rahib atau rabbi yang mengambil bentuk spiritualitas asketism tertentu
dengan para pengikut ajarannya. Yang menarik adalah hampir semua kelompok
ajaran kehidupan tersebut menyebut ketuanya atau para pembesar ajarannya dengan
sebutan “rahib” atau “rabbi”, yang berarti “guru”. Para filsuf-filsuf besar
sebelumnya yang tumbuh di Eropa yang juga mencetuskan tentang ajaran tatakelola
manusia dan masyarakat seperti Socrates, Plato, Nicolo Marchiaveli, dll juga
berperan dan berfungsi seagai “guru” dengan sebutan istilah masing-masing di
masyarakatnya.
Ajaran-ajaran
baru (yang kemudian kita sebut Agama) tersebut tentu bersifat rebellion (pemaharuan) karena
kekuatannya menurut saya, adalah memulai dan memberikan jawaban terhadap “kaum
miskin dan termarginal”-kan. Kaum miskin dan termarginalkan ini adalah para
pengikut awal: Mengapa? Karena mereka langsung dapat menemukan sebuah harapan
hidup baru yang menjanjikan keadilan antar sesama manusia. Jarang dan
sangat-sangat sedikit orang-orang kaya, para bangsawan, saudagar, atau para
tentara/militer kerajaan yang menjadi pengikut awal karena mereka bisa
menemukan “kerugian” kalau bergabung dengan ajaran baru rebellion yang mewartakan hidup adil dengan sesama dan mengasihi
sesama. Ajaran seperti kasihanilah
sesamamu, sebagian harta kita adalah
ada pada hak kaum miskin, berikan
sedekah dari hartamu kepada fakir miskin maka kamu akan diselamatkan, dll.
Ini adalah contoh kecil dari “ajaran-ajaran baru” yang sangat berbeda dengan
“ajaran-ajaran lama” sebelumnya yang lebih berpihak kepada kaum elite. Tetu
saja ajaran baru ini menjadi populer di kalangan kaum miskin, dengan membawa
idiom “Cinta Kasih”.
Ajaran-ajaran
lama, atau katakanlah ajaran yang lebih kuno, yang kata banyak orang disebut
ajaran menyembah berhala, membawa idiom filsafat sacrify (pengorbanan). Ajarannya berbasis pada ancaman dan
intimidasi. Semua manusia harus berkorban jika ingin mendapatkan rejeki, hidup
enak, dan makmur. Yang tidak tunduk maka akan kena berhala atau tulah, bahkan
dibunuh. Orang-orang miskin tentu merasa selalu dalam ancaman, sebab korban apa
lagi yang sanggup dia berikan untuk “sang kuasa”. Harta tidak ada, kambing hanya
satu atau dua itu saja untuk bertahan hidup, hasil ladang tidak ada sebab semua
ladang milik raja dan para darah biru. Sang raja dan penguasa tertinggilah yang
paling bisa memberika bingkisan korban terbanyak. Maka wajar jika dia merasa
paling dekat dengan “sang paling kuasa”, saking dekatnya kadang dia menyatakan
diri sebagai sepadan dengan sang paling kuasa itu. Dan oleh karena itu dia bisa
bertitah semaunya. Si miskin tetap kehilangan kehidupannya.
Ajaran-ajaran
baru (yang kemudian kita sebut Agama) itu, juga menawarkan konsepsi baru
mengenai “ontologi imanensi” atau semacam teologi baru, yaitu “relasi” antara
manusia dengan “sesuatu” yang lebih besar dari manusia (yang kemudian disebut
dengan Allah). Sesuatu yang lebih besar dari manusia itu digambarkan “sangat
agung” dan “sangat Ilahi”, yang menyebabkan segala sesuatu didunia ini menjadi
ada termasuk manusia. Siapa dia, sesuatu yang lebih besar itu?
Para
teolog penjaga agama pasti akan menjelaskan yang intinya adalah, bahwa “sesuatu”
yang lebih besar dari manusia itu adalah Allah, yang sudah ada dengan
sendirinya, sudah “terberi”. Dia berkuasa atas alam, manusia, dan kehidupan,
yang kepadanya hidup ini diorientasikan dan dipasrahkan. Para pemikir sekuler,
atau filsuf-filsuf eksistensialis, yang juga mempersoalkan relasi manusia
dengan sesuatu yang lebih besar dari manusia (dan oleh karenanya saya tetap
ingin menyebut para pemikir ini sebagai “teolog-kritis”), mengajukan argumen
bahwa “sesuatu” yang lebih besar dari manusia yang dibayangkan serta disebut dengan
sosok Allah itu terlalu abstrak.
Mengapa
abstrak?
Oleh
karena menyebut sosok Allah itu abstrak maka para “teolog-kritis” ini lantas
disebut “ateism”, anti-Allah/anti-Tuhan, anti-teo-ism. Bagi saya itu tidak
tepat, karena para teolog-kritis ini sesungguhnya masih tetap mendambakan dan mencari
siapa sosok lebih besar dari manusia itu. Mereka hanya tidak setuju dengan
“konsepsi” yang sudah ditawarkan dalam simbolisasi Allah seperti yang
ditawarkan oleh “ajaran-ajaran baru” (Agama).
Mari
sekarang kita membahas secara lebih kritis mengapa para “teolog-kritis” itu
mengkritik atau tidak setuju dengan tawaran “relasi imamnensi-transendental”
dalam simbolisasi Allah itu? Inti ketidaksetujuan itu adalah karena subyek Allah yang ditawarkan (oleh ajaran baru yg
disebut Agama) terlalu abstrak dan terlalu ambisius melekatkan atribut memiliki
kekuasaan tidak terbatas atas manusia, alam, dan kehidupan. Subyek manusia
digambarkan sangat lemah, tidak punya pilihan apa-apa, dan oleh karena itu
manusia hanya diberi pilihan untuk “percaya saja kepada Allah”. Itu sebabnya
mengapa kritik-subyektif Jean Paul Sartre, yang menurut pembacaan saya
merupakan salah satu filsuf ateis, mengatakan jika manusia ingin eksis maka dia
harus menguburkan “sosok Allah”.
Kamu
Berdosa Sejak Dilahirkan
Ide
dasar dari agama-agama dalam filosofi teologisnya adalah “kamu, manusia, sudah
membawa dosa sejak dilahirkan”, dan oleh karena itu kalau mau atau ingin “selamat” (?) maka satu-satunya
jalan hanyalah dengan percaya kepada Allah dan menjalankan perintahnya. Ide ini
dimulai dari Adam dan Hawa yang terjerumus di dalam dosa karena memakan buang
terlarang, begitu awal mula cerita dari Kitab Kejadian.
Adam
dan Hawa dengan demikian merupakan tokoh sentral dalam kontrak dosa manusia
sepanjang manusia masih terlair di dunia, yaitu “dosa asal”. Berbasis pada
logika teologis tersebut maka agama kemudian membuat segala macam cerita
ajarannya yang dalam keseluruhannya berorientasi pada “bahwa manusia adalah
mahkluk berdosa”, yang sepanjang hidupnya harus meminta ampun kepada Allah
sampai dia mati.
Kalau
secara kritis kita bertanya, lantas dimana bukti bahwa agama yang dimana kita
terus menerus meminta ampunan Allah maka kita akan diselamatkan? Secara
tekstual di dalam kitab agama manapun tidak pernah dijelaskan bahwa seorang
manusia mencapai “keselamatan” itu pada periode yang sama ketika dia masih
hidup di dunia. Janji tentang keselamatan tersebut selalu diceritakan akan
dicapai setelah manusia “mati”. Maka
sangat jelas bahwa teologi dosa asal dan keselamatan bagaikan teorisasi tentang
suatu bangunan teologis. Yaitu suatu cara kerangka berpikir yang sengaja
disusun agar manusia mengamini bahwa dosa asal itu ada, dan keselatan itu ada.
Karena adanya dosa asal yang inherent pada manusia itu maka manusia membutuhkan
“keselamatan”. Dengan demikian,
sesungguhnya dengan kata lain kita dapat mengatakan bahwa dosa asal dan
keselamatan yang dijanjikan itu cuma bohong belaka. Dia bagaikan teori
kausalita yang manipulatif.
Cerita
tentang dosa asal dan keselatan itu tidak ubahnya semacam teori teologis
tertentu. Dia sejajar dengan teori “Trias Politika” yang diajarkan Plato dan
Socrates ratusan tahun sebelum munculnya agama-agama itu. Plato dan Sokrates
pada intinya juga menjanjikan sebuah tatanan manusia dan masyarakat baru yang katakanlah lebih neradab, jika
mereka mau menghargai orang lain, tidak korup, dibuat aturan yang transparan,
dan hidup dalam nuansa demokratis. Ajaran-ajaran dasar Trias Politika pun
kemudian berkembang sedemikian rupa sebagaimana upaya manusia menginginkan
kehidupan yang lebih aman, damai, sejahtera.
Aturan-aturan
sosial, hak-hak pribadi, kepemilikan pribadi, kalau mencuri dihukum, kalau
memjbunuh dihukum, kalau korupsi diturunkan dari jabatan, dll merupakan
keturunan dari teori Trias Politika. Masyarakat secara lebih luas juga harus
diatur. Tata cara memilih pemimpin, tatacara mengatur negara, tatacara mengatur
antara rakyat dan pemimpin agar adil, dsb.
Lebih tua
lagi dari Plato dan Socrates, teori-teori semacam itu sejajar dengan
legenda-legenda teoris para dewa-dewa Yunani, yang juga mengajarkan tentang
cara-cara manusia ingin mencapai hidup keselamatan, sejahtera karena kesuburan
tanah, lepas dari penyakit dan kecelakaan.
Melalui
teori “dosa asal dan keselamatan” itu, manusia, oleh agama, sesungguhnya
ditempatkan pada sudut titik nadir paling tidak demokratis, paling kelam,
paling tidak bermartabat. Berdasarkan teori dasar yang semacam ini, maka semua
bangunan aturan di dalam agama sesungguhnya sudah tidak memihak kepada manusia.
Jangan mencuri, kasihilah sesamamu, cintailah mereka yang lemah, hormati
musuh-musuhmu, jangan menghujat Allah-mu dan bertobatlah…dan lain sebagainya,
hanyalah turunan-turunan dari teori yang sudah menyudutkan manusia itu. Lebih
dari itu statemen-statemen ajaran tadi sudah ada pada Plato dan Sokrates.
Kalau
sungguh-sungguh dengan tepat dan benar kita melaksanakan “Trias Politika”
seperti yang diinginkan Plato dan Sokrates, tidakkah kita sesungguhnya sudah
melaksanakan lebih dari 75% ajaran-ajaran kebenaran yang dianjurkan oleh
agama-agama. Kemana yang 25%? Yang 25% adalah praktik-praktik kepercayaan
transendental-immnensi kepada “sesuatu yg lebih besar dari manusia”, yang
seluruhnya abstrak dan absurd baik di dalam ajaran agama baru maupun
bentuk-bentuk religiusitas-transendental yang lebih kuno.
Dari
seluruh penjelasan di dalam bagian 1 di atas, maka ingin ditegaskan secara
ringkas bahwa manusia memiliki eksistensi ontologis yang “tidak pasti”. Dari
siapakah manusia menjadi ada, kepada siapa dia meminta tolong keluar dari
kendala-kendala kehidupannya, bagaimana caranya, adakah sosok “mitra” yang
terpercaya oleh manusia dalam mengatasi kehidupan-kehidupan yang dihadapinya,
semuanya bernuansa “ketidakpastian”. Di dalam kondisi yang semacam itu maka
manusia –dan tentu manusia sebagai kelompok-- itu sendiri menjadi objek yang eksotis untuk diproblematisasikan oleh
pemikir-pemikir menonjol dari jaman ke jaman. Sebut saja para pemikir itu
seperti Homer, Socrates, Plato, para penulis Injil, maupun para pemikir dan
penulis disekitar religiusitas baru yang disebut agama.
Semua
para pemikir atau teolog, filosof atau disebut guru, rabbi dan semacamnya,
sayangnya tidak satupun yang mampu mencapai taraf memberikan narasi jawaban
yang “pasti” atas ontologi kehidupan manusia. Bahkan ajaran-ajaran dan atau
pemikiran mereka disusun sedemikian rupa menempatkan manusia pada “eksistensi
pinggiran”, eksistensi yang tidak humanis karena manusia dianggap berdosa sejak
dia dilahirkan. Setiap aliran ajaran memiliki basis pengajaran yang berbeda
satu sama lain. Mungkin saja mirip di satu sisi, tetapi berbeda di dalam
praktik pelaksanaan ajarannya. Mengapa bisa begitu? Karena manusia “yang tidak
pasti ini” mau menyusun ajaran-ajarannya sendiri untuk dirinya sendiri yang
tidak pasti. Di dalam eksistensi ontologis ketidak pastian itu maka pihak-pihak
yang mencoba melakukan klaim dirinyalah yang paling pasti, hanya akan
menumbuhkan kepedihan baru dalam ketidak pastian. Perang antar kelompok ajaran
itu yang terjadi sepanjang jaman, adalah buktinya!
Penutup: “Discover Yourself Devosion”
Sebagaimana
ditawarkan Plato dan Socrates tentang kehidupan demokratis yang agung ratusan
tahun silam, yang sampai sekarang tidak pernah suntuh dicapai oleh semua umat
manusia-masyarakat-negara di muka bumi ini, hidup beragama pun dalam
kelompok-kelompok masyarakat juga masih jauh dari hal yang disebut sempurna.
Jangan-jangan hal ini menyangkut hal sebagaimana sudah saya paparkan
sebelumnya, yang pada intinya bermuara kepada hal-hal yang amat ideal
diinginkan manusia dalam berkehidupan melalui kapasitasnya mengeksplorasi dunia
ontologis tatanan kehidupan.
Lantas
apa yang harus kita lakukan, kepada apa saya dedikasikan devosi dalam diri saya
ini, jika jika bahkan, dogma-dogma agamapun nampaknya teramat abstrak bagai
tata surya yang tak berujung dan bertepi ini? Jawabannya adalah pada “diri kita
sendiri”, kepada kehendak di dalam diri yang berupa inspirasi untuk bertindak
dalam kehidupan yang kita percaya akan membimbing kita hidup lebih baik. Lebih
baik dari hari kemarin!!
Manusia
secara bilogis, di dalam dirinya telah tersedia gen-gen atau mungkin katakanlah
hormon-hormon, yang memampukan dirinya “belajar” dari yang sudah dilakukan,
menilai dampak dan resikonya, mempelajari ingatan-ingatan-sejarah, dan kemudian
merencanakan. Jikau kau menyakiti orang lain, suatu saat akan terbalas
disakiti. Jika kau mencuri milik orang lain, maka milik suatu saat akan diambil
curi oleh orang lain bahkan mungkin oleh orang lain yang bukan barangnya kau
curi. Kalu kau mengganggu istri/perempuan orang lain, maka perempuanmu suatu
saat akan diganggu orang lain.
Terlahir
sebagai mahkluk sosial, berkelompok, berelasi dengan individu lain, sudah
dengan sendiri hukum seperti saya gambarkan tersebut terjadi. Aturan-aturan
yang kemudian disusun bersama antar manusia, hanyalah sebuah artefak dokumen
untuk mengingatkan karena bagaimanapun ingatan manusia adalah terbatas lintas
waktu dan generasi. Kemampuan manusia yang “historis” membuat dirinya tergerak
untuk mencatat (dalam papirus, kulit kayu, batu, atau kertas). Yang kemudian
ternyata catatan-catatan itu bermanfaat untuk mensinkronkan, mereintepretasi
ulang, dan menyusun dogma catatan baru yang terkontektulisasi dengan kondisi
kekinian.
Jadi yang
perlu kita lakukan adalah sebuah devosi (sesuatu rasa kepercayaan mendalam yang
didesikan) untuk hidup lebih baik dari hari kemarin untuk hari berikutnya. Itu
saja! Sebab jika kamu berbuat baik atas manusia lain, kita akan dikenang. Jika
kita menolong anak miskin keluarga lain untuk disekolahkan atau dibawa ke
dokter karena dia sakit, kamu akan dikenang bahkan mungkin juga akan ditolong
oleh orang lain lagi jika nanti kamu bernasib sama dengan si miskin.
Tidak
usah takut, bahwa memang nantinya semua kekayaan dan barang yang kita miliki,
semua kebaikan yang sudah kita lakukan, akan hilang dan tinggal kenangan milik
orang lain ketika kita mati. Begitula kejelekan yang kita lakukan pun lenyap
ketika kita mati. Semua menjadi milik yang kita tinggalkan. Manusia diberi
kemampuan mengenang (menyejarah melalui kenangan), dan karena itu kemudian
mengkreasikan bayangan hidup sesudah mati agar yang hidup dan yang sudah mati
masih memiliki hubungan kenangan. Ada banyak bukti hal ini diberbagai
kebudayaan di belahan muka bumi manapun, bahkan di komunikas-komunitas yang
tidak mempraktikkan apa yang sekarang disebut “agama”.
Semua
tinggal kenangan, yang bahkan kenangan itu sudah tidak mampu bekerja lagi di
dalam dirika yang sudah menjadi jasad. Kita semua sudah kambali, dari tiada
kembali ke tiada, dari kosong kembali ke kosong, dari hampa kembali ke hampa...
[666]
[1] Saya
sengaja memakai istilah enak atau nyaman, dan bukan istilah “baik” atau
“buruk”. Sebabnya adalah “enak/nyaman” lebih bersifat inherent pada kemampuan
psiko-mental manusia. Saya lebih ingin menunjukkan eksistensi manusia.
Sementara istilah “baik dan buruk” sengaja tidak dipakai untuk menghindari
premis-prenis norma agama.
[2] Saya ingin
jelaskan di sini bahwa sampai sebelum munculnya dogma-dogma agama seperti
(Islam, Katolik, Kristen, Buda, Hindu, Tao, Konghucu, dll), manusia telah ber-civilization dan merumuskan berbagai
dogma/aturan sosial agar hidup mereka terasa enak dan nyaman. Sangat mungkin
bahwa dalam civilization awal itu
mereka juga sudah mensepakati semacam dogma imanen-transendental (mempercayai
ada sesuatu yang lebih kuat dari manusia). Dan sudah banyak bukti
imliah-arkeologis bahwa civilization
semacam itu, bahkan dengan kebudayaan yg amat sophisticated, terjadi di Mesir kuno, India kuno, di Inka, Romawi
kuno, bahkan di wilayah-wilayah Celtic Eropa Barat.
[3] Jangan-jangan
dia hanya tidak ubahnya seperti cara kerja para filsuf sebelumnya, yang dengan
kemampuan otak yang sangat baik, melakukan analisis ulang, reintepretasi ulang,
mengkontekstualisasikan dan memberikan nilai baru terhadap kondisi sosial yang
ada, kemudian menulis ulang ajaran-ajaran baru tentang filsafat eksistensi
manusia (baik dalam hubungan antar manusia maupun hubungan antara manusia
dengan sesuatu yang lebih besar yang disebut “Allah”).